INSIBERNEWS - Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Iran menyatakan rencana untuk menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Rencana ini mencuat sebagai respons atas serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap tiga lokasi strategis di wilayah Iran beberapa waktu lalu. Langkah itu disebut telah mendapat lampu hijau dari parlemen Iran.
Baca Juga: Korut Murka Usai Serangan AS ke Iran: Sebut Langgar Piagam PBB dan Ganggu Perdamaian Dunia
"Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup," ungkap Mayor Jenderal Esmaeil Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, seperti dikutip media Anadolu pada Senin (23/6/2025).
Kowsari menjelaskan bahwa keputusan final terkait penutupan selat tersebut masih menunggu restu dari Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran.
"Keputusan akhir mengenai hal tersebut akan ditetapkan oleh Dewan Keamanan Tertinggi Nasional," katanya.
Baca Juga: Serangan DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah: 37,4 Terabyte dalam 45 Detik, Dunia Siber Dibikin Panik
Penutupan Selat Hormuz bukanlah isu sepele. Jalur ini merupakan titik krusial bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia yang melintasi kawasan tersebut setiap harinya.
Jika Iran benar-benar melaksanakan ancaman ini, dampaknya tidak hanya akan terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak secara drastis.
Baca Juga: Nekat! Seorang Pria Panjat Genteng Rumah Warga Usai Terciduk Lakukan Pelecehan Seksual di Bekasi
Langkah agresif Iran ini dinilai sebagai bentuk tekanan balik terhadap Amerika Serikat yang sebelumnya menyerang situs-situs militer penting di Iran. Pemerintah Iran memandang serangan tersebut sebagai bentuk pelanggaran atas kedaulatan negaranya dan sebagai tindakan provokatif yang bisa memicu konflik terbuka.
Baca Juga: Yamaha Luncurkan Fazzio dengan Tampilan Segar dan Warna Baru, Inovasi atau Gimmick?
Sejumlah analis internasional menilai bahwa jika Iran benar-benar menutup selat ini, situasi bisa berkembang menjadi konflik maritim yang melibatkan kekuatan global.
Negara-negara pengimpor minyak dari Asia hingga Eropa dipastikan akan ikut terdampak, dan dunia pun menahan napas menunggu keputusan akhir dari otoritas tertinggi Iran dalam waktu dekat.