INSIBERNEWS - Ketegasan soal sikap Indonesia terhadap Israel kembali ditegaskan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas. Ia menilai pembukaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel tak seharusnya menjadi opsi selama negeri Zionis itu masih menjajah Palestina.
Menurutnya, hal tersebut bertentangan langsung dengan prinsip kemanusiaan, keadilan, dan nilai-nilai konstitusi yang menjadi pijakan Indonesia sejak merdeka.
Baca Juga: Banjir Besar Kepung Tangsel, Ratusan Warga Terdampak dan Dievakuasi dari Rumah Terendam
"Sejak awal berdiri, Indonesia menolak segala bentuk penjajahan. Itu tertuang jelas dalam pembukaan UUD 1945. Maka, menjalin hubungan dengan penjajah, sama saja menodai prinsip kita sendiri," ujar Anwar dalam pernyataan tertulis, Kamis (29/5).
Baca Juga: Indonesia Satu Grup dengan Korsel, Mampukah Garuda Muda Mengulang Kejutan di Kualifikasi U-23?
Ia menambahkan bahwa syarat mutlak untuk bisa membuka komunikasi diplomatik dengan Israel adalah ketika negara tersebut benar-benar mengakhiri pendudukan di tanah Palestina dan mengakui kemerdekaan penuh rakyatnya.
Tanpa itu, semua wacana kerja sama hanya akan melukai hati rakyat Indonesia yang sejak lama berdiri bersama perjuangan Palestina.
Baca Juga: Playlist Patah Hati: Kenapa Kita Suka Lagu Sedih Pas Lagi Galau?
Anwar juga menyoroti bahwa persoalan ini bukan hanya soal kemerdekaan, tetapi juga tentang pertanggungjawaban Israel atas segala bentuk kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang telah terjadi selama konflik berlangsung. Termasuk tuduhan tindakan genosida yang harus diproses secara adil dan transparan.
Baca Juga: Dibakar Cemburu, Pria Kalimantan Siram Air Keras ke Mantan Pacar dan Anaknya di Sukabumi
"Israel tidak bisa dibiarkan seolah tak pernah bersalah. Mereka harus dimintai pertanggungjawaban atas luka dan trauma yang ditimbulkan kepada rakyat Palestina selama puluhan tahun," tegasnya.
Baca Juga: Netanyahu Kembali di Meja Hijau, Hadapi Sidang Korupsi ke-35 di Tel Aviv
Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden terpilih Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia membuka peluang menjalin hubungan dengan Israel, namun hanya jika Palestina merdeka terlebih dahulu.
Pernyataan itu disampaikan saat konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan sontak menuai beragam respons, termasuk dari Muhammadiyah yang sejak lama vokal menentang segala bentuk normalisasi dengan Israel selama penjajahan belum berakhir.