INSIBERNEWS - Rencana pemerintah untuk meluncurkan paket insentif ekonomi pada 5 Juni 2025 mendatang memang disambut positif banyak kalangan.
Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan ini belum sepenuhnya menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini justru jadi motor penggerak konsumsi domestik, yaitu kelas menengah.
Baca Juga: Catatkan Prestasi Global BRI, Raih Tiga Penghargaan Prestisius dari The Asset
Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menyoroti pentingnya memperluas cakupan program diskon tarif listrik agar lebih tepat sasaran.
Menurutnya, insentif seperti ini sebenarnya sangat strategis dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama jika jangkauan golongan pelanggan diperluas hingga yang menggunakan listrik 2.200 VA.
Baca Juga: Nonton Konser Lady Gaga Pakai Jilbab, Shella Saukia Owner Travel Umroh Dihujat netizen
“Diskon tarif listrik itu langkah yang bagus, tapi jangan hanya menyasar pelanggan dengan daya di bawah 1.300 VA,” ujar Bhima saat dihubungi pada Minggu (25/5).
“Pelanggan 2.200 VA ini mayoritas adalah pekerja kantoran, penyewa rumah kontrakan, atau penghuni kos yang tergolong kelas menengah. Mereka juga butuh dukungan, apalagi kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih,” lanjutnya.
Bhima menilai kelompok ini sering kali tidak masuk radar kebijakan karena dianggap ‘mampu’, padahal kenyataannya mereka juga menghadapi tekanan biaya hidup yang tidak kecil.
Mulai dari sewa tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan pokok yang terus naik. Kalau insentif seperti diskon listrik tak menjangkau mereka, maka daya beli bisa melemah dan konsumsi rumah tangga pun berisiko stagnan.
Baca Juga: Arab Saudi Akan Izinkan Penjualan Dan Konsumsi Alkohol Mulai Tahun Depan
Ia juga menekankan bahwa pemerintah perlu meninjau ulang segmentasi penerima bantuan agar tidak hanya fokus pada kelompok sangat miskin atau miskin saja.
“Jangan sampai kelas menengah jadi kelompok yang ‘terlupakan’. Padahal, dari sisi kontribusi terhadap perekonomian nasional, mereka cukup besar perannya,” katanya.