INSIBERNEWS - Kebakaran besar melanda kawasan hutan di wilayah tengah Israel, tepatnya di sekitar Yerusalem, pada Rabu (30/4/2025).
Pemerintah Israel menetapkan status darurat menyusul kobaran api yang cepat meluas akibat cuaca panas, angin kencang, dan kondisi lahan yang kering. Situasi ini membuat sejumlah wilayah pemukiman harus dievakuasi demi keselamatan warga.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Kredit Bank di Balik Kebangkrutan Sritex, Kejagung Turun Tangan
Api menjalar hingga ke tepi Jalan Raya 1 yang merupakan jalur utama penghubung antara Tel Aviv dan Yerusalem. Warga yang tengah berada di jalan tersebut panik. Beberapa video yang beredar luas di media sosial menunjukkan pengendara meninggalkan kendaraan mereka dan berlarian untuk menyelamatkan diri dari jilatan api yang semakin mendekat.
Ada pula yang terlihat menumpang truk derek yang lewat demi bisa keluar dari zona bahaya.
Baca Juga: Capai Rp66,92 Triliun, Berikut Rencana Kemenkeu Soal Penyaluran Tunjangan Guru ASN Daerah Tahun 2025
Sejumlah komunitas di kawasan Perbukitan Yerusalem seperti Neve Shalom, Mevo Horon, dan Eshtaol telah dikosongkan. Helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan air ke area yang terbakar, sementara asap hitam tebal masih membumbung tinggi dan terlihat dari berbagai titik.
Situasi ini menambah tekanan pada petugas pemadam yang berjibaku memadamkan api di medan yang cukup sulit.
Baca Juga: Bawa Pulang Mobil BMW hingga Ribuan Tabungan Emas, BRI Umumkan Pemenang BRImo FSTVL 2024
Dalam pernyataannya, pemerintah Israel mengakui bahwa mereka kewalahan dan telah menghubungi sejumlah negara untuk meminta bantuan.
Yunani, Italia, Kroasia, Siprus, dan Bulgaria menjadi negara-negara pertama yang diminta mengirimkan dukungan berupa pesawat pemadam dan tenaga tambahan. Bantuan internasional itu dijadwalkan mulai tiba pada Kamis (1/5) waktu setempat.
Baca Juga: Harga BBM Turun, Pertamina Tambah Promo dan Cashback di MyPertamina!
Kebakaran hutan di Israel bukan hal baru, namun kejadian kali ini disebut sebagai salah satu yang paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Krisis iklim, suhu yang terus meningkat, dan pengelolaan lahan yang belum maksimal membuat wilayah ini makin rentan terhadap kebakaran besar.
Pemerintah diminta segera mengevaluasi sistem tanggap darurat dan meningkatkan kapasitas mitigasi bencana demi mencegah tragedi serupa terulang.