news

Ma’ruf Amin Tegaskan Pentingnya Peran Kiai dalam Politik

Senin, 17 Maret 2025 | 15:16 WIB
Ma'ruf Amin ditugaskan sebagai Plt Presiden (Istimewa)

INSIBERNEWS - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Depok menggelar acara Halaqah Kebangsaan yang dihadiri oleh seribu ustaz dan kiai.

Acara yang berlangsung di Hotel Bumi Wiyata, Depok, ini turut mengundang mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai pembicara utama.

Dalam kesempatan tersebut, Ma’ruf menyoroti pentingnya keterlibatan kiai dalam dunia politik guna memberikan warna dalam berbagai kebijakan negara.

Baca Juga: Duel Sopir Gegara Rebutan Parkir di Kalibata City, Polisi Selidiki Penyebab Keributan

Menurut Ma’ruf, peran kiai dan ulama tidak boleh terbatas hanya pada bidang dakwah, pendidikan, dan ekonomi syariah. Ia menegaskan bahwa keputusan-keputusan besar di negeri ini selalu berkaitan dengan politik.

Jika para kiai tidak mengambil bagian dalam proses politik, maka warna keagamaan dalam kebijakan negara akan semakin pudar.

“Kiai harus berperan dalam politik agar kebijakan yang diambil tetap memiliki nilai-nilai agama dan moral,” ujarnya dalam acara yang digelar pada Minggu (16/3/2025).

Baca Juga: Serangan AS ke Yaman Tewaskan Puluhan Warga, Militer Yaman Bersumpah Balas Dendam

Ma’ruf juga mengingatkan bahwa keterlibatan kiai dalam politik bukanlah hal baru. Ia mengisahkan bahwa sejak zaman pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya telah aktif dalam pergerakan politik.

Bahkan, NU sendiri pernah menjadi partai politik sebelum akhirnya kembali menjadi organisasi keagamaan.

"Saya sendiri dulu terjun ke dunia politik sejak muda. Tahun 1971, saya menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai NU, saat usia saya belum genap 30 tahun," kenangnya.

Baca Juga: Protes Besar di Serbia, Ratusan Ribu Orang Tuntut Keadilan atas Tragedi Runtuhnya Stasiun

Lebih lanjut, Ma’ruf menceritakan bagaimana dirinya dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berbagi peran dalam perjalanan politik dan organisasi NU.

Ketika NU memutuskan kembali ke khittah sebagai organisasi sosial keagamaan, Gus Dur memilih tetap di NU, sementara Ma’ruf fokus di jalur politik.

Halaman:

Tags

Terkini