news

Simon Mantiri Berikan Nomor Pribadi untuk Laporan Kualitas BBM, Tanggapi Dugaan Pengoplosan dan Praktik Curang di Pertamina

Selasa, 4 Maret 2025 | 15:01 WIB
Ilustrasi SPBU Pertamina (Foto: Dok. Pertamina Patra Niaga)

INSIBERNEWS - Isu kualitas bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kembali menjadi sorotan, terutama setelah dugaan praktik pengoplosan yang melibatkan produk Pertamina mencuat. Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengambil langkah proaktif dengan membagikan nomor telepon selular pribadinya untuk menerima laporan langsung dari masyarakat terkait masalah kualitas BBM atau dugaan praktik melenceng di lapangan.

“Selain kami punya call center di 135, saya juga memberikan nomor khusus saya, yaitu nomor 081417081945,” ujar Simon dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3/2025).

Meskipun saat ini nomor tersebut hanya dapat menerima pesan singkat (SMS), Simon mengungkapkan bahwa ia akan segera mendaftarkan nomor tersebut untuk dapat menerima laporan melalui aplikasi WhatsApp. Langkah ini menunjukkan keseriusan PT Pertamina dalam menanggapi keluhan atau laporan terkait kualitas produk dan operasional perusahaan.

 Baca Juga: Pendidikan Bukan Hanya Soal Makan: Anies Baswedan Beri Pandangan tentang Prioritas Pendidikan di Indonesia

Dugaan Pengoplosan BBM Pertalite dan Premium Jadi Pemicunya

Keputusan Simon Mantiri untuk membuka jalur komunikasi langsung ini muncul setelah terungkapnya dugaan pengoplosan bahan bakar BBM jenis Pertalite dan Premium menjadi Pertamax. Kasus ini diduga melibatkan praktik korupsi di anak perusahaan Pertamina yang menyebabkan kerugian negara yang sangat besar, mencapai Rp193,7 triliun hanya pada tahun 2023 saja. Praktik tersebut diduga sudah berlangsung selama periode 2018-2023.

Dalam laporan yang diterima, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan bahwa dalam pengadaan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga, tersangka Riva Siahaan, yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, melakukan pembelian untuk RON 92, padahal yang dibeli sebenarnya adalah bahan bakar dengan RON 90 atau bahkan lebih rendah. Selanjutnya, BBM RON 90 tersebut dicampur (blending) di storage/depo untuk dijadikan RON 92, suatu tindakan yang jelas tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.

 Baca Juga: Zelensky Siap Serahkan Mineral Ke AS Meski ada Ketegangan dengan Trump

Kekhawatiran Masyarakat dan Tanggapan LEMIGAS

Dugaan pengoplosan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat terkait kualitas BBM RON 92 yang beredar di SPBU Pertamina, terutama Pertamax. Mengingat pentingnya kualitas bahan bakar untuk kendaraan dan kesehatan mesin, isu ini mendapat perhatian luas.

Namun, Lembaga Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) segera merespons dengan melakukan uji sampel BBM di berbagai lokasi. Hasil uji yang dilakukan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan, serta Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Plumpang, menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.

LEMIGAS menyatakan bahwa BBM yang dijual di SPBU Pertamina, termasuk Pertamax, sudah sesuai dengan standar kualitas yang berlaku dan aman untuk digunakan. Meskipun demikian, pengawasan tetap diperlukan untuk menjaga kualitas produk dan menghindari potensi penyelewengan lebih lanjut.

 Baca Juga: Zelensky Siap Serahkan Mineral Ke AS Meski ada Ketegangan dengan Trump

Keterbukaan dan Komitmen PT Pertamina dalam Menjaga Kepercayaan Masyarakat

Halaman:

Tags

Terkini