INSIBERNEWS - Pasukan Israel melancarkan operasi militer baru di Kota Jenin, Tepi Barat, pada Rabu (22/01/2025), meskipun gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu antara Israel dan kelompok Islam Hamas di Jalur Gaza.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi langkah ini dan menggambarkannya sebagai "operasi yang kuat untuk melenyapkan teroris dan infrastruktur teroris" yang berada di wilayah tersebut.
Operasi ini menandai kelanjutan dari kebijakan militer Israel yang kerap kali melibatkan operasi besar untuk menanggulangi kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh negara tersebut, meskipun sedang ada upaya untuk menangguhkan permusuhan di Gaza.
Francesca Albanese, pelapor khusus PBB mengenai situasi hak asasi manusia di Wilayah Palestina, mengungkapkan keprihatinannya mengenai dampak lebih lanjut dari tindakan militer Israel ini.
Baca Juga: Zelenskyy Tuduh Putin Manipulasi Trump, Sementara Korban Tewas Tentara Rusia Terus Bertambah
Dalam sebuah postingan media sosial, Albanese memperingatkan bahwa jika tidak ada intervensi internasional, genosida terhadap warga Palestina yang sudah berlangsung di Gaza berpotensi meluas ke wilayah lain, termasuk Tepi Barat.
Pernyataannya ini menambah kekhawatiran banyak pihak yang melihat operasi militer tersebut sebagai langkah eskalasi yang bisa memicu lebih banyak korban jiwa dan penderitaan warga sipil.
Sementara itu, meskipun serangan militer tersebut terjadi di Jenin, situasi di Gaza menunjukkan tanda-tanda bahwa kesepakatan gencatan senjata tetap dipatuhi.
Tidak ada pertempuran berskala besar yang dilaporkan sejak dimulainya gencatan senjata, meskipun media lokal melaporkan bahwa beberapa orang tewas dan terluka akibat serangan dari pasukan Israel.
Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk menghentikan kekerasan di Gaza, ketegangan yang lebih besar masih berlangsung di Tepi Barat dan wilayah lainnya.
Para pengamat internasional terus memantau dengan cermat perkembangan ini, dengan banyak pihak menilai bahwa situasi di Gaza dan Tepi Barat tidak hanya menyangkut konflik Israel-Palestina, tetapi juga berdampak pada kestabilan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Sementara upaya mediasi dan gencatan senjata terus berlanjut, banyak yang bertanya-tanya sejauh mana komitmen kedua pihak untuk menjaga perdamaian dan apakah akan ada langkah-langkah lebih lanjut untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade ini.
Artikel Terkait
AS Dukung Israel Tutup UNRWA! Keputusan Donald Trump Picu Kontroversi di PBB, Nasib Pengungsi Palestina Terancam?
Donald Trump Kritik The Fed! Kritik Kebijakan Suku Bunga dan Janji Kendalikan Inflasi dengan Strategi Baru
Donald Trump Tanda Tangani Perintah Eksekutif! Pelajar Internasional Bisa Dideportasi Jika Terlibat Aksi Antisemitisme, Picu Kontroversi di Dunia
Departemen Kehakiman AS Selidiki Pembebasan Imigran Ilegal di New York: Munculnya Kebijakan Baru Donald Trump Terhadap Kota Perlindungan Ithaca
Tanpa Bukti yang Jelas Donald Trump Tuding Program Keberagaman FAA Penyebab Kecelakaan Pesawat: Kontroversi Terkait Kecelakaan Pesawat di Washington
Trump Ancam Negara BRICS dengan Tarif 100 Persen jika Ciptakan Mata Uang Baru
Update Tabrakan Helikopter Black Hawks dan Pesawat Amerikan Airlines, Donald Trump: Tidak Ada yang Selamat
Trump Paksa Mesir dan Yordania Terima Warga Gaza yang Ingin Direlokasikan
Zelenskyy Tuduh Putin Manipulasi Trump, Sementara Korban Tewas Tentara Rusia Terus Bertambah
Donald Trump Akan Kembali Menghubungi Kim Jong Un, Sebut Pemimpin Korea Utara Itu Sebagai Orang yang Cerdas