Dalam beberapa kasus, anak yang menjadi korban grooming mengalami gangguan kepercayaan diri yang berkepanjangan, memengaruhi kemampuan mereka untuk membangun hubungan sehat di masa depan.
Eksploitasi Seksual
Grooming sering kali berakhir dengan pelecehan seksual atau pemanfaatan anak untuk tujuan ilegal, seperti pornografi anak atau perdagangan manusia.
Pelaku menggunakan kepercayaan yang telah mereka bangun untuk mengontrol dan memanipulasi anak agar melakukan tindakan seksual yang merugikan mereka.
Eksploitasi seksual tidak hanya merusak fisik anak, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang dalam dan sulit disembuhkan.
Isolasi Sosial dan Kehilangan Dukungan
Pelaku grooming cenderung berusaha mengisolasi korban dari orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan teman-teman.
Baca Juga: Ratusan Lowongan Kerja Terbaik Dibuka di PNJ Career Expo, Yuk Siap Ngelamar Kerjaan!
Mereka mendorong anak untuk menjaga rahasia atau bahkan memanipulasi anak agar percaya bahwa orang lain tidak akan mengerti atau membantu mereka.
Isolasi ini dapat memperparah perasaan kesepian dan membuat korban merasa tidak memiliki jalan keluar.
Ketika seorang anak kehilangan dukungan dari lingkungan terdekat, ia menjadi lebih rentan terhadap pengaruh pelaku.
Baca Juga: Beneran Ga Sih! Perempuan yang Tolak Lamaran Bisa Seret Jodoh?
Trauma Jangka Panjang
Korban grooming sering kali mengalami trauma jangka panjang, baik secara emosional maupun fisik.
Artikel Terkait
Banjir Meluas, 6 Kecamatan di Kota Gorontalo Tergenang
Demi Cinta Pada Pria Candu Judi Online, Mahasiswi Cantik Asal Gorontalo Gelapkan 11 Laptop
Kasus Dugaan Pelecehan oleh Oknum Guru di Gorontalo, Video Viral Memicu Penyelidikan Polisi
Parah! Beredar Video Mesum Seorang Guru dan Murid di Gorontalo, Akhirnya Dilaporkan ke Polisi
Ramai Kasus Guru Gorontalo dengan Muridnya Dinilai Child Grooming, Apa Artinya?