Selain itu, calon tunggal juga berpotensi mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih.
Tanpa adanya pilihan lain, beberapa pemilih mungkin merasa kurang termotivasi untuk berpartisipasi dalam pemilihan, yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat partisipasi dan dampak demokrasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Nikita Mirzani Sindir Netizen Berhenti Ceramahin, Netizen Doain Lolly
Dilansir InsiberNews dari akun Instagram @matanajwa (1/9/2024), ada sejumlah faktor kenapa terjadi calon tunggal dan kotak kosong.
Direktur Pusat Kajian Politik UI, Hurriyah menilai munculnya fenomena tersebut karena syarat pencalonan Pilkada dinilai berat dan juga mahal. Termasuk biaya mahar dan juga biaya kampanye.
Karena di dalam kampanye beban pembiayaan politik berpusat pada sumber daya finansial yang dimiliki atau bisa didapatkan kandidat.
Baca Juga: Resmi! Pertamina Turunkan Harga BBM, Berlaku 1 September 2024
Kemudian faktor yang kedua adalah ada kecenderungan partai politik membuat koalisi besar untuk mengunci kemenangan.
Partai politik cenderung membuat koalisi kemudian merekayasa demokrasi kontestasi.
“Ada kecenderungan parpol-parpol besar untuk merekayasa demokrasi elektoral dengan membatasi arena kontestasi sedemikian rupa lewat koalisi besar,” ungkap Hurriyah.
“Sehingga bisa mengunci kemenangan dan memastikan parpol punya kontrol besar terhadap kandidat,” lanjutnya.***
Artikel Terkait
Sempat Dapat Tawaran Maju Pilkada Jawa Barat, Anies Baswedan Putuskan untuk Menolak
Pemula Wajib Tahu! Berikut Tips Memilih Kepala Daerah Terbaik dalam Pilkada
Jelang Pilkada Serentak oleh KPU Berikut Pengertian Serta Jadwal Pelaksanaan
Warga Ramai Datangi Rumah Anies Baswedan Desak untuk Maju Pilkada Jakarta
Menarik! Akan Ada Pertarungan 3 Srikandi Perebutkan Posisi Gubernur di Pilkada Jawa Timur