Buntut Promo Miras Pakai Hafalan Al-Quran di The Sounds Project, 5 Pihak Resmi Dipolisikan

Photo Author
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:23 WIB
Menyoroti viralnya kontroversi dugaan tantangan hafalan Al-Quran yang berhadiah miras dalam festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara. (Instagram.com/@nowdots)
Menyoroti viralnya kontroversi dugaan tantangan hafalan Al-Quran yang berhadiah miras dalam festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara. (Instagram.com/@nowdots)
INSIBERNEWS - Jagat maya belakangan ini dihebohkan oleh insiden tak lazim yang memicu kemarahan publik di ajang festival musik bergengsi, The Sounds Project, di kawasan Ancol, Jakarta Utara.
 
Sebuah rekaman amatir dari pengunjung memperlihatkan aktivitas promosi minuman keras (miras) yang sangat nyeleneh, di mana tantangannya mengharuskan peserta melantunkan ayat suci Al-Quran. Kejadian yang dinilai sangat tak beretika ini sontak memantik kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat hingga akhirnya berujung pada desakan proses hukum.

Merespons kegaduhan yang mencederai perasaan umat tersebut, Advokat Muhammad Rizki dari Tim Hukum Muslim bergerak cepat menyambangi Markas Polda Metro Jaya pada Selasa (11/8/2026) untuk melayangkan laporan resmi.
 
 
Langkah tegas ini diambil demi menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang dinilai nekat menggunakan sentimen agama sebagai alat pemasaran. Laporan tersebut telah teregister sah oleh penyidik dengan nomor LP/B/5914/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.
"Hari kami akan laporkan kurang lebih 5 pihak.
 
Yang pertama itu ialah EO dari acara tersebut, acara sampah tersebut. Yang kedua, produsen daripada miras. Yang ketiga, ada dua orang MC. Lalu yang terakhir itu perempuan yang melafazkan Al-Qur'an demi mendapatkan satu botol miras," urai Rizki secara lugas di hadapan awak media.

Merujuk pada berkas tanda penerimaan laporan, daftar pihak yang diseret ke ranah hukum ini mencakup oknum pembawa acara bernama Revnaldo Ega S, perwakilan merek miras Newport dari Orang Tua Group, hingga pihak penyelenggara utama The Sounds Project.
 
Rizki menjerat kelima terlapor ini dengan dugaan tindak pidana penistaan agama yang ketentuannya telah diatur secara jelas dan tegas dalam Pasal 300 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
 

Awal mula kontroversi ini meledak tak terbendung setelah beredarnya sebuah rekaman video pada gelaran festival di hari Minggu (9/8/2026) akhir pekan lalu.
 
Dalam cuplikan yang beredar luas tersebut, tampak seorang pengunjung perempuan mendatangi stan promosi produk miras dan secara sadar mengikuti sebuah tantangan.
 
Mirisnya, syarat mutlak untuk memenangkan sebotol minuman beralkohol secara gratis tersebut adalah dengan melantunkan hafalan Surah Ad-Duha secara fasih di hadapan keramaian pengunjung lainnya.

Sadar acaranya menjadi sorotan negatif dan bulan-bulanan netizen, pihak promotor The Sounds Project akhirnya buka suara untuk memberikan klarifikasi resmi melalui akun Instagram mereka. Pihak penyelenggara menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak pernah menyetujui ide promosi nyeleneh tersebut dan berjanji akan mengevaluasi ketat seluruh stan sponsor yang terlibat di masa mendatang.
 
 
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," tulis pernyataan resmi pihak The Sounds Project.

Di sisi lain, Direktur Newport, Handoko Sasongko, juga tampil ke publik untuk menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang telah melukai hati umat Muslim di Tanah Air.
 
Handoko berdalih bahwa insiden memalukan itu murni inisiatif spontan oknum di lapangan dan sama sekali bukan merupakan konsep promosi resmi yang disetujui oleh pihak manajemen merek.
 
"Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi," sesalnya mengakhiri pernyataan.
 

Gelombang kecaman yang terus mengalir deras juga membuat sang pemandu acara di stan Newport akhirnya ikut merilis permohonan maaf secara terbuka di media sosial pribadinya.
 
Melalui akun Threads @aqueer_, Revnaldo Ega selaku MC yang bertugas hari itu mengakui kesalahan fatalnya karena tidak peka dan gagal mencegah aksi kontroversial tersebut terjadi di depan matanya sendiri.
 
"Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, memohon maaf atas kejadian yang terjadi. Saya mengakui kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menjadikannya pembelajaran untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya," pungkas Ega menanggapi hujatan yang tertuju padanya.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X