"Ancaman apa pun akan dibalas dengan respons yang kuat. Trump tidak akan memperoleh apa pun dari ancamannya, justru berisiko kehilangan akses Selat Hormuz sekaligus peluang mencapai kesepakatan akhir," kata sumber tersebut.
Baca Juga: Bos MNC Hary Tanoesoedibjo Terseret Diduga Aniaya Pegawai, Korban Akui Ditampar hingga Dipermalukan
Situasi memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas di wilayah pesisir Iran, termasuk di Provinsi Hormozgan dan Mahshahr.
Iran menilai tindakan tersebut melanggar gencatan senjata dan merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan rudal dan drone ke puluhan target militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Baca Juga: Tawuran Maut di Salatiga: Remaja 14 Tahun Tewas Disiram Air Keras, Tujuh Pelaku Jadi Tersangka
Iran juga mengaku berhasil menembak jatuh pesawat nirawak MQ-9 yang disebut sedang menjalankan operasi di wilayah tersebut.
Hingga kini, ketegangan di kawasan masih terus berlangsung dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz.***
Artikel Terkait
BI Beberkan Penyebab Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Soroti Sinyal Hawkish The Fed
Serangan AS ke Iran Memanas, Fasilitas Militer hingga Pelabuhan Jadi Sasaran di Tengah Pemakaman Khamenei
AS Hantam 80 Target Militer Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas
AS Ingkar Janji, Iran Kecam Keras Pembatalan Sepihak Sanksi Minyak dalam Pakta Islamabad
Balas Serangan Amerika, Iran Luncurkan Rudal dan Drone ke Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Kuwait