Direktur Pelaksana Perusahaan Minyak Nasional Iran, Hamid Bovard, mengungkapkan bahwa penghapusan blokade dan sanksi ekonomi terhadap industri minyak Teheran menjadi agenda penting yang mereka perjuangkan dalam pertemuan tersebut, demi memulihkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk sampai ke hari pertama negosiasi pun sejatinya membutuhkan perjuangan diplomatik yang tidak mudah setelah jadwal hari Jumat sempat berantakan akibat boikot delegasi Iran.
Dinamika yang pelik ini diakui secara terbuka oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang mengisyaratkan bahwa dinamika perdamaian di Timur Tengah selalu dipenuhi variabel yang tidak sederhana.
Baca Juga: Trump Siapkan Kebijakan Tarif di Selat Hormuz Jika Negosiasi AS-Iran Buntu
"Kita telah melihat kemajuan besar selama beberapa hari terakhir dalam memastikan gencatan senjata tetap berlaku di Lebanon," ujar Vance yang kemudian menambahkan,
"Hal-hal ini selalu sedikit rumit."
Tantangan menuju perdamaian sejati tampaknya masih harus melewati jalan terjal yang berliku dan penuh ketidakpastian global.
Hal ini kian dipertegas oleh sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bersikeras mempertahankan militer negaranya di Lebanon selatan, sementara di sisi lain Donald Trump tetap mengancam akan melanjutkan pengeboman jika Iran gagal mengendalikan pergerakan Hizbullah di perbatasan.***
Artikel Terkait
AS Bantah Selat Hormuz Ditutup Iran Lagi, Sebut Puluhan Kapal Masih Lalu Lalang Bawa Jutaan Barel Minyak
Bahlil Bantah Krisis Batu Bara Jadi Penyebab Listrik Padam, Tegaskan Distribusi Tanggung Jawab PLN
Serangan Drone Ukraina ke Kilang Minyak Rusia Picu Krisis BBM, Antrean SPBU Mengular
Tragedi Subuh di Banjarwangi, Dua Remaja di Garut Tewas Terjebak Kobaran Api Saat Tidur Pulas
Kepergok Mencuri, Siswi SMP yang Tusuk Guru Hingga Tewas Akhirnya Serahkan Diri ke Polisi
Jerman Bangkit Lawan Pantai Gading, Deniz Undav Bersinar di Piala Dunia 2026, Samai Rekor Gol Lionel Messi