INSIBERNEWS - Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk hengkang dari OPEC memicu perhatian dunia, termasuk dari Rusia sebagai salah satu pemain utama di pasar energi global.
Langkah ini dinilai berpotensi mengubah dinamika produksi minyak dan memengaruhi harga di pasar internasional.
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, menyatakan bahwa keluarnya UEA dari OPEC bisa membuka peluang bagi negara tersebut untuk meningkatkan produksi minyak secara bebas.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menciptakan kelebihan pasokan yang pada akhirnya menekan harga minyak dunia.
“Ketika sebuah negara tidak lagi terikat pada kesepakatan produksi, mereka bisa memaksimalkan kapasitasnya dan membanjiri pasar,” ujar Siluanov, seperti dikutip dari Reuters.
Rusia, yang tergabung dalam aliansi OPEC+, selama ini berkoordinasi erat dengan negara-negara OPEC dalam mengatur produksi minyak demi menjaga stabilitas harga. Namun, keluarnya UEA berpotensi mengganggu keseimbangan tersebut.
Baca Juga: Kasus Penganiayaan Balita di Daycare Banda Aceh Terungkap, Polisi Tetapkan Satu Tersangka
Siluanov memperingatkan, jika negara-negara produsen mulai bertindak secara independen tanpa koordinasi, produksi minyak bisa melonjak tajam. Dampaknya, harga minyak global berisiko turun akibat suplai yang melimpah.
Meski begitu, ia menekankan bahwa saat ini harga minyak masih relatif tinggi karena faktor geopolitik, khususnya gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi blokade di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Ketegangan di wilayah tersebut, terutama terkait konflik di Iran, masih menjadi penopang utama harga minyak saat ini. Namun, jika situasi kembali normal dan jalur distribusi dibuka sepenuhnya, potensi kelebihan pasokan bisa semakin nyata.
Baca Juga: Dugaan Penganiayaan ART di Bintaro, Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi
Meski UEA memilih keluar, Rusia memastikan tetap berkomitmen dalam kerja sama OPEC+. Moskwa berharap aliansi ini tetap solid dalam menghadapi ketidakpastian pasar energi global.
Selama ini, Rusia juga dikenal memiliki hubungan strategis dengan negara-negara produsen utama, termasuk Arab Saudi dan UEA. Oleh karena itu, keputusan UEA dianggap sebagai perkembangan signifikan yang bisa memengaruhi keseimbangan kekuatan dalam industri minyak dunia.
Artikel Terkait
Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi, Dedi Mulyadi Minta Premanisme di Perlintasan Ditindak Tegas
Dugaan Penganiayaan ART di Bintaro, Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi
Kasus Penganiayaan Balita di Daycare Banda Aceh Terungkap, Polisi Tetapkan Satu Tersangka
Kebakaran Apartemen Mediterania Jakbar: Penghuni Dievakuasi Lewat Tangga Darurat Berlapis
Indonesia Cetak Sejarah di Asian Beach Games 2026, Duo Atlet Panjat Tebing Bali Sabet Emas dan Pecahkan Rekor Dunia
Eks Finalis Puteri Indonesia Ditangkap Gegara Praktik Kecantikan Ilegal hingga Sebabkan Cacat Permanen