INSIBERNEWS - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah antisipatif menyusul peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Langkah ini ditempuh untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan longsor, yang kerap dipicu oleh hujan berintensitas tinggi.
Baca Juga: Tesla Pangkas Fitur Autopilot Standar, Arahkan Konsumen ke Full Self-Driving
Operasi tersebut dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan berbagai lembaga terkait. BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD DKI Jakarta, BPBD Jawa Barat, serta TNI Angkatan Udara dalam pelaksanaan teknis di lapangan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama kebijakan ini adalah menurunkan intensitas curah hujan yang diperkirakan meningkat pada paruh akhir Januari 2026.
“Operasi modifikasi cuaca merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna mereduksi curah hujan tinggi yang diperkirakan mengguyur wilayah Jawa Barat dan Jakarta pada periode dasarian kedua dan ketiga Januari 2026,” ujar Abdul Muhari dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan dengan menaburkan bahan semai awan pada wilayah yang berpotensi memicu hujan lebat. Teknik ini bertujuan mengatur distribusi hujan agar tidak terkonsentrasi di satu kawasan tertentu yang rawan bencana.
Baca Juga: Terkait Kabar Bergabungnya RI, Menlu Ungkap Dewan Perdamaian Dunia Tak Akan Gantikan PBB
Menurut Abdul Muhari, operasi tersebut telah dimulai sejak 12 Januari 2026 dan dijadwalkan berlangsung menyesuaikan dinamika cuaca harian. Selama pelaksanaan, BNPB mengerahkan dua unit pesawat untuk mendukung kegiatan penyemaian awan.
“BNPB mengoperasikan pesawat Cessna Caravan PK-JVH, sementara BPBD DKI Jakarta mengerahkan pesawat CASA 212 A-2105,”jelasnya.
Baca Juga: Bencana Longsor Terjang Pasirlangu Cisarua, 8 Orang Meninggal Dunia dan Puluhan Rumah Tertimbun
BMKG berperan penting dalam menyediakan analisis cuaca dan menentukan area potensial penyemaian awan. Data meteorologi ini menjadi dasar penentuan waktu dan lokasi operasi agar hasilnya lebih efektif dan terukur.
BNPB menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca bersifat preventif dan menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko bencana. Upaya ini melengkapi langkah lain seperti kesiapsiagaan daerah, penguatan sistem peringatan dini, serta edukasi masyarakat di wilayah rawan.
Artikel Terkait
Hubungan Reza Arap dan Lula Lahfah Kembali Disorot Usai Kepergian Sang Selebgram, Kenang Ketulusan Hati Kekasihnya
Bencana Longsor Terjang Pasirlangu Cisarua, 8 Orang Meninggal Dunia dan Puluhan Rumah Tertimbun
Dinar Candy Ingatkan Anak Muda Jauhi Podgeter Tak Lama Setelah Lula Lahfah Tutup Usia
Terkait Kabar Bergabungnya RI, Menlu Ungkap Dewan Perdamaian Dunia Tak Akan Gantikan PBB
82 Orang Hilang, Begini Kesaksian Korban Selamat Longsor Cisarua yang Dengar Dentuman Keras Sebelum Tanah Runtuh
DPR Angkat Suara soal Dugaan Bisnis Sawit PT Sinarmas di Aceh, Komisi IV Janji Turun Cek Temuan Jatam
Bawa Pulang Sejumlah Kesepakatan Strategis, Prabowo Tuntaskan Lawatan ke Tiga Negara
Tak Ingin Warga Lama di Pengungsian, Dedi Mulyadi Beri Bantuan Kontrak Rp10 Juta bagi Korban Longsor Burangrang
Pramono Anung Bidik BTS Tampil di JIS Akhir 2026, Jakarta Siap Jadi Tuan Rumah Konser Dunia
Tesla Pangkas Fitur Autopilot Standar, Arahkan Konsumen ke Full Self-Driving