INSIBERNEWS - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melemah pada perdagangan Selasa (16/12/2025). Ini menjadi penurunan hari ketiga berturut-turut, seiring tekanan dari pasar minyak nabati global serta kekhawatiran meningkatnya pasokan di tengah laju ekspor yang melambat.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun 1,05 persen ke level 3.969 ringgit Malaysia per ton. Pelemahan tersebut terjadi hingga perdagangan sore, mencerminkan sentimen pasar yang masih cenderung berhati-hati.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Kepala Daerah Papua Harus Kerja Nyata, Langgar Hukum Siap Dicopot
Tekanan utama datang dari penurunan harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari di pasar internasional. Kondisi ini membuat daya tarik CPO ikut tergerus, terutama bagi pembeli yang sensitif terhadap perbedaan harga antar komoditas substitusi.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan pergerakan CPO saat ini sejalan dengan tren pelemahan di pasar minyak nabati secara global.
“CPO bergerak melemah karena tekanan luas di sektor minyak nabati dunia, ditambah kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan stok,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.
Selain faktor harga pesaing, pelaku pasar juga mencermati data ekspor yang dinilai kurang menggembirakan. Perlambatan pengiriman ke negara-negara tujuan utama menimbulkan kekhawatiran terjadinya penumpukan stok, khususnya di Malaysia sebagai salah satu produsen terbesar dunia.
Kondisi tersebut membuat investor dan pedagang cenderung menahan posisi beli, sambil menunggu kejelasan arah permintaan global. Apalagi, fluktuasi nilai tukar dan kebijakan energi di sejumlah negara turut menambah ketidakpastian pasar.
Di sisi lain, beberapa analis menilai koreksi harga ini masih bersifat teknikal dan dipengaruhi sentimen jangka pendek. Permintaan CPO untuk kebutuhan pangan dan energi terbarukan dinilai tetap memiliki prospek dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca Juga: Selama Lebih Dari Dua Dekade, Harga Saham BBRI Konsisten Naik di Bursa Efek Indonesia
Meski demikian, dalam waktu dekat, pergerakan harga CPO diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika minyak nabati global, data ekspor terbaru, serta perkembangan stok. Pasar pun menunggu katalis baru yang mampu mengembalikan kepercayaan dan mendorong harga kembali menguat.***
Artikel Terkait
Kemendagri Salurkan 125 Ribu Pakaian Gagal Ekspor untuk Korban Banjir Sumatera, Tito Dorong Izin Khusus Bantuan Swasta
Pengungsi Banjir di Paya Cukai Kekurangan Bantuan Medis, Kondisi Warga Kian Mengkhawatirkan
IFG Terima Pengakuan INSTAR atas Praktik Keberlanjutan yang Konsisten
Ferry Irwandi Terharu Lihat Panen Cabai Warga Aceh Tengah Usai Banjir Bandang
Kepala BNPB Pastikan Dukungan Penuh untuk Warga Aceh Utara Terdampak Banjir Bandang
Selama Lebih Dari Dua Dekade, Harga Saham BBRI Konsisten Naik di Bursa Efek Indonesia
Kisah Pilu Korban Banjir Aceh Tamiang, Bertahan Hidup Tanpa Air dan Makanan Selama 3 Hari
Menyentuh Hati! Ketua Posko Pengungsian di Aceh Dahulukan Korban Banjir di Desa Lain Demi Kemanusiaan: Ngapain Kita Rakus?
Aliran Rp809,6 Miliar di Balik Proyek Chromebook Kemendikbudristek, Nama Nadiem Disebut di Sidang Tipikor
Prabowo Tegaskan Kepala Daerah Papua Harus Kerja Nyata, Langgar Hukum Siap Dicopot