INSIBERNEWS - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menegaskan arah kebijakan fiskal yang kini menjadi fokus utama pemerintah.
Menurutnya, perlindungan pasar dalam negeri sekaligus percepatan pertumbuhan ekonomi adalah dua hal yang tidak bisa ditawar di tengah tekanan global dan maraknya praktik curang yang mengganggu industri lokal.
Dalam pernyataannya, Purbaya menyebut bahwa Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah strategi yang ia sebut sebagai “kuda-kuda utama” untuk menjaga fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh.
Baca Juga: Putin Sampaikan Belasungkawa Mendalam untuk Korban Banjir Besar di Sumatra
Pria yang terkenal dengan gaya kepemimpinan tegas dan tanpa basa-basi ini menegaskan bahwa penguatan penerimaan negara, perbaikan iklim investasi, hingga dorongan pada target pertumbuhan menjadi prioritas yang terus dikejar.
Purbaya mengungkapkan bahwa langkah-langkah penertiban di Bea Cukai—mulai dari penanganan ekspor fiktif hingga praktik under-invoicing—bukan semata demi menaikkan pendapatan negara, tetapi lebih untuk melindungi pelaku usaha dalam negeri dari tekanan barang ilegal dan manipulatif.
“Yang asing-asing, yang gelap-gelap itu saya matikan. Dalam jangka pendek, saya amankan saja pasarnya. Saya biarkan industri domestik hidup supaya tenaga kerjanya tetap bekerja,” ujar Purbaya.
Baca Juga: InJourney Airports Dirikan Posko Udara untuk Salurkan Bantuan Bencana Aceh–Sumut–Sumbar
Ia mencontohkan bagaimana masuknya pakaian bekas hingga barang-barang selundupan dapat mematikan produsen lokal dan menciptakan pengangguran. Begitu pula dengan industri rokok, yang menurutnya tidak boleh dirusak oleh peredaran rokok ilegal. Karena itu, penindakan dilakukan setiap hari tanpa kompromi.
Dalam kunjungannya ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Purbaya menemukan sejumlah kontainer berisi barang dengan nilai harga yang tidak masuk akal—terlalu rendah dibandingkan harga pasar.
Ia langsung memberi peringatan keras kepada importir dan menegaskan bahwa perusahaan yang mengulang pelanggaran akan diblokir alias “dimerahkan” izin impornya.
Baca Juga: Marshanda Berduka, Ayahanda Tercinta Tutup Usia di 58 Tahun
Menkeu juga optimistis bahwa rasio pajak Indonesia dapat kembali didorong menembus angka di atas 10 persen dan terus meningkat hingga 2029. Ia percaya penguatan sektor swasta adalah kunci peningkatan penerimaan pajak secara alami.
“Ketika ekonomi di-drive oleh private sector, tax ratio-nya bisa lebih tinggi setengah sampai satu persen tanpa effort berlebihan. Dari situ saja, tahun depan bisa dapat 100 sampai 200 triliun,” ujarnya.
Artikel Terkait
BRI Mendukung UMKM Naik Kelas dengan Kolaborasi Bersama SOGO
Bencana Besar di Sumatera: Korban Jiwa Tembus 303 Orang, Akses Masih Terputus dan Cuaca Tak Bersahabat
Keluar Penjara Berkat Rehabilitasi Presiden, Ira Puspadewi Akui Hidupnya ‘Dibakar’ untuk Jadi Emas
Heboh Video ‘Penjarahan’ di Sumut, BNPB: Itu Reaksi Warga yang Sudah Berhari-hari Tak Makan
Rosan Roeslani Beberkan Alasan Danantara Terlibat dalam Rencana Merger GOTO–Grab: 'Kesejahteraan Ojol Jadi Prioritas'
Marshanda Berduka, Ayahanda Tercinta Tutup Usia di 58 Tahun
AIR MATA DEWI PERSSIK DI AKMIL! Pesan Haru saat Gegep Resmi Jadi Taruna: "Jangan Pernah Tinggalkan Salat!
Dorong Sanksi Sosial untuk Pelaku Bullying, DPR Usulkan Rekam Jejak Pelanggaran Ditampilkan Publik
InJourney Airports Dirikan Posko Udara untuk Salurkan Bantuan Bencana Aceh–Sumut–Sumbar
Putin Sampaikan Belasungkawa Mendalam untuk Korban Banjir Besar di Sumatra