Guru Harus Berwibawa, Prabowo Ingatkan Orang Tua Tak Selalu Benarkan Anak

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Sabtu, 29 November 2025 | 12:55 WIB
Presiden Prabowo sentil orang tua soal sikap anak yang tidak hormat kepada gurunya. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo sentil orang tua soal sikap anak yang tidak hormat kepada gurunya. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

INSIBERNEWS – Presiden Prabowo Subianto kembali menyoroti relasi antara guru, murid, dan orang tua di sekolah. Dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat (28/11/2025), Prabowo menegaskan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan anak didik—dan untuk itu, ketegasan mutlak diperlukan.

Di hadapan ribuan guru, Prabowo menyoroti fenomena yang kian sering terjadi: murid yang bersikap kurang ajar, lalu orang tua langsung membela tanpa memahami duduk perkara. Ia menilai kondisi ini mempersulit guru menjalankan fungsi pendidikan secara utuh.

Baca Juga: Kisruh Kasus Perselingkuhan: Inara Rusli Akhirnya Buka Suara, Akhiri Status Nikah Siri dengan Insanul Fahmi

“Jadi, hai orang tua di mana pun, kalau guru itu keras, jangan-jangan anakmu yang nakal,” kata Prabowo, disambut tepuk tangan peserta acara.

Ia menegaskan bahwa ketegasan bukanlah bentuk kekerasan, melainkan bagian dari proses mendidik. Guru, katanya, perlu dihormati agar atmosfer belajar tetap sehat dan terjaga. Prabowo bahkan menyebut bahwa banyak kasus bermula karena orang tua merasa anaknya tidak mungkin salah.

Prabowo kemudian membagikan sebuah kisah yang pernah ia dengar soal murid yang menunjukkan perilaku tak pantas di lingkungan sekolah. Dalam cerita itu, seorang siswa membanting pintu dengan kasar hingga membuat kepala sekolah mengambil langkah tegas.

Baca Juga: Polda Metro Jaya Siapkan Gelar Perkara Khusus Kasus Ijazah Jokowi, Kubu Roy Suryo Sebut Jadi Penentu Arah Penyidikan

“Ada murid banting pintu, langsung kepala sekolah memberhentikan anak itu,” ucap Prabowo.

Namun situasi berubah ketika kepala sekolah mengetahui bahwa murid tersebut ternyata anak seorang perwira tinggi. Posisi semakin sensitif, sementara kepala sekolah mulai merasa canggung dan takut salah langkah.

“Tahu-tahu kepala sekolahnya grogi karena yang diberhentikan itu anak jenderal,” lanjutnya.

Kepala sekolah itu akhirnya menghubungi Prabowo untuk meminta arahan. Prabowo menegaskan bahwa aturan tetap harus ditegakkan, siapa pun orang tua muridnya. Tidak boleh ada perlakuan khusus yang membuat guru atau pihak sekolah kehilangan wibawa.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Dorong Lulusan SMK Masuk Program Magang Nasional

“Kepala sekolahnya telepon saya. Saya bilang, ‘Enggak usah ragu. Mana jenderal itu? Suruh menghadap saya’. Aku tunggu-tunggu enggak datang-datang juga itu,” ujar Prabowo, yang membuat hadirin tertawa kecil.

Melalui cerita tersebut, Prabowo ingin menegaskan bahwa tekanan dari luar tidak boleh membuat sekolah goyah. Pendidikan karakter hanya bisa berjalan jika guru dan kepala sekolah diberi ruang untuk menjalankan perannya dengan tegas dan adil.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X