INSIBERNEWS - Kasus meninggalnya ibu hamil, Irene Sokoy, menjadi heboh di tengah masyarakat karena penolakan yang dialami dari 4 rumah sakit di Papua.
Diungkapkan olehMenteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, bahwa Presiden Prabowo sudah mengetahui insiden tersebut dan memberi arahan untuk melakukan audit.
Kata Tito, pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan Gubernur Mathius Fakhari dan meminta untuk membantu keluarga korban.
Baca Juga: Terungkap! KPK Tahan 3 Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi RSUD Kolaka Timur
“Saya minta Pak Gubernur sesegera mungkin ke rumah keluarga korba, semua dibantu,” ucap Tito kepada awak media kawasan Istana Merdeka, Jakarta pada Senin, 24 November 2025.
Siap Lakukan Audit Internal
Tito juga menyebut penanganan kejadian tersebut, salah satunya dengan akan dilakukan audit internal.
“Melakukan audit internal, masalahnya di mana, dikumpulkan rumah sakit-rumah sakit itu, termasuk juga para pejabat yang di Dinas Kesehatan, baik provinsi, kabupaten, dan swasta,” tambahnya.
Baca Juga: 3 Miliar Ton Sumber Daya Baru Ditemukan! Freeport Buka Peluang Perpanjang Tambang di Papua
“Menkes dan saya sudah komunikasi, Pak Menkes hari ini dan dari Kemendagri hari ini juga turun ke Jayapura untuk melakukan audit,” paparnya.
Pihak Kemendagri, kata Tito akan melakukan audit dari sisi aturan yang diberlakukan, termasuk peraturan kepala daerah.
“Peraturan Bupati itu kan melibatkan rumah sakit Kabupaten Jayapura, kemudian peraturan Gubernur karena yang terakhir kan di RSUD Dok II Jayapura,” jelasnya.
Baca Juga: Tragis! Pengendara Fortuner Tewas Usai Serempet Pesepeda dan Tabrak Truk Parkir di Jakbar
Sedangkan dari Kemenkes, kata Tito akan berfokus pada audit teknis mengenai masalah layanan kesehatan yang dilakukan oleh tim khusus.
Dalam kesempatan yang sama, Tito juga membeberkan pesan yang diterima dari Presiden Prabowo terkait insiden tersebut.
“Tadi pesan dari Bapak Presiden, jangan sampai terulang lagi. Segera lakukan audit untuk mengetahui bab masalahnya, lalu perbaikan apakah fasilitasnya, tata kelola, orangnya, atau aturannya,” ujar mantan Kapolri itu.
Baca Juga: Stok BBM Dijaga Ketat Jelang Natal hingga Lebaran, ESDM: Jarak Perayaan Terlalu Dekat
“Ini yang kami tunggu nanti saat kami berangkat ke sana,” tuturnya.
Dikabarkan, sebelum kehilangan nyawanya, Irene mengalami kontraksi dan akan melahirkan pada 16 November 2025, ia dibawa ke RSUD Yowari.
Namun, di rumah sakit tersebut dokter kandungan sedang berada di luar kota dan merujuk Irene ke RS Dian Harapan.
Baca Juga: Tiga WNA Nigeria Diamankan di Jakpus, Diduga Terlibat Online Scam dan Langgar Izin Tinggal
Permasalahan di RS Dian Harapan adalah ruang BPJS Kelas III dan NICU penuh beserta dokter kandungan yang sedang cuti.
Petugas kemudian meminta keluarga untuk membawa Irene ke rumah sakit lain, yakni RSUD Abepura.
Di RSUD Abepura, ruangan operasi ternyata sedang direnovasi dan tidak bisa menerima pasien gawat darurat.
Baca Juga: Kasasi Ditolak, Mario Dandy Tetap Dihukum 6 Tahun dalam Kasus Asusila terhadap AG
Rumah sakit terakhir adalah RS Bhayangkara Jayapura dengan masalah yang dihadapi adalah ruang BPJS Kelas III penuh dan tersedia ruang VIP, tetapi keluarga harus membayar uang muka Rp4 juta.
Irene kemudian meninggal dunia saat di perjalanan menuju RSUD Jayapura pada 19 November 2025.***
Artikel Terkait
Heboh! Wanita Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kos Cirebon, Pacar Ungkap Pertengkaran Sehari Sebelumnya
Insentif Guru Honorer Naik Tahun 2026, Mendikdasmen Janji Tambah Beasiswa dan Perluas Akses Pendidikan Guru
Jakarta Resmi Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, Pergub Baru Berlaku Mulai 24 November
Tragis! Pengendara Fortuner Tewas Usai Serempet Pesepeda dan Tabrak Truk Parkir di Jakbar
Ketua DPR Tanggapi Insiden Meninggalnya Ibu Hamil di Papua Usai Ditolak 4 Rumah Sakit