Ketegangan meningkat setelah serikat pekerja Solidarity—yang sebagian besar mewakili komunitas Afrikaner—memasang billboard provokatif bertuliskan:
“Selamat datang di negara yang paling diatur berdasarkan ras di dunia.”
Pesan itu mengarah pada kritik terhadap kebijakan afirmasi aksi yang diterapkan pemerintah. Billboard tersebut kemudian dicopot aparat, tetapi langkah itu justru memicu ancaman gugatan hukum dari Solidarity.
Baca Juga: Jokowi Hadiri Gala Dinner Eksklusif Bloomberg di Singapura, Duduk Semeja dengan Mike Bloomberg
Situasi semakin rumit karena boikot yang dilakukan Washington juga diduga dipicu klaim tentang diskriminasi terhadap kelompok Afrikaner. Pemerintah Afrika Selatan menanggapi keras tekanan tersebut.
Mereka menolak permintaan AS agar tidak merilis deklarasi akhir KTT, dengan menyatakan bahwa negara yang memboikot acara tidak memiliki dasar untuk ikut mengatur hasilnya.
Keputusan Presiden Donald Trump untuk tidak menghadiri forum bergengsi itu dinilai banyak pengamat sebagai langkah politis yang berlebihan. Banyak negara anggota khawatir ketidakhadiran ekonomi terbesar dunia akan menggerus legitimasi dan efektivitas kesepakatan G20 yang biasanya membutuhkan konsensus kolektif.
Baca Juga: Wapres Gibran Terbang ke Afrika Selatan Wakili Prabowo di KTT G20
Meski begitu, Afrika Selatan berupaya menegaskan bahwa KTT tetap bisa menghasilkan kesepakatan bermakna. Pemerintah ingin mendorong agenda pembangunan berkelanjutan, reformasi tata kelola global, serta penguatan peran negara-negara berkembang dalam struktur ekonomi dunia.
Namun di luar ruang pertemuan, rangkaian aksi protes yang datang dari kelompok dengan isu berbeda-beda mencerminkan betapa kompleksnya tantangan domestik yang dihadapi Afrika Selatan.
Dari ketimpangan ekonomi, tensi rasial, hingga isu kekerasan gender—semuanya muncul bersamaan di momentum besar ini.
Baca Juga: Longsor di Banjarnegara Robohkan Puluhan Rumah, 18 Orang Dilaporkan Hilang
Dengan keamanan diperketat dan sorotan dunia tertuju ke Johannesburg, masa depan implementasi kesepakatan G20 akan bergantung bukan hanya pada apa yang disepakati di atas meja, tetapi juga pada bagaimana pemerintah menjaga ketertiban di jalanan.
Di tengah tekanan geopolitik dan pergolakan sosial, Afrika Selatan mencoba menunjukkan bahwa mereka siap menjadi tuan rumah yang tangguh sekaligus pemimpin yang dihormati di panggung global.***
Artikel Terkait
Longsor di Banjarnegara Robohkan Puluhan Rumah, 18 Orang Dilaporkan Hilang
22 Perenang Indonesia Siap Tempur di SEA Games 2025 Thailand, Berikut Nama-namanya
X Resmi Hapus Fitur DM, Ganti dengan ‘Chat’ Berlapis Enkripsi dan Panggilan Suara-Video
Ariana Grande Umumkan Positif COVID di Tengah Tur Promosi 'Wicked: For Good'
Wakil Ketua DPRD Banten Yudi Wibowo Harap APBD 2026 Bawa Dampak Positif untuk Rakyat
Jokowi Hadiri Gala Dinner Eksklusif Bloomberg di Singapura, Duduk Semeja dengan Mike Bloomberg
Wapres Gibran Terbang ke Afrika Selatan Wakili Prabowo di KTT G20
Shin Min Ah Bantah Isu Hamil Duluan Usai Umumkan Menikah dengan Kim Woo Bin
Darurat Tata Kelola Tambang, JATAM Ungkap Praktik Tumpang Tindih Izin Sejumlah Perusahaan Nikel di Halmahera
Bahan Peledak Dibeli Online, Polisi Ungkap Motif dan Latar Belakang ABH dalam Ledakan SMAN 72 Jakarta