PBB Kecam Serangan Udara Israel di Gaza, Sebut Banyak Anak Jadi Korban

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Kamis, 30 Oktober 2025 | 08:52 WIB
PBB Kecam Serangan Udara Israel di Gaza (Foto : Dok/Anadolu)
PBB Kecam Serangan Udara Israel di Gaza (Foto : Dok/Anadolu)

INSIBERNEWS - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara tegas mengecam aksi serangan udara yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza pada awal pekan ini. Serangan tersebut menewaskan puluhan warga sipil, termasuk anak-anak, dan kembali memicu kekhawatiran akan runtuhnya perjanjian gencatan senjata yang baru berjalan beberapa minggu.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan pihaknya sangat prihatin atas meningkatnya kekerasan yang kembali terjadi di wilayah Gaza. Ia menyebut bahwa korban jiwa dalam serangan tersebut sebagian besar adalah warga sipil yang tidak bersenjata.

Baca Juga: Dolar AS Bergerak Fluktuatif Usai The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Pasar Masih Menunggu Sinyal Kebijakan Lanjutan

“Sang Sekretaris Jenderal mengutuk keras pembunuhan warga sipil di Gaza akibat serangan udara Israel, termasuk di antara korban terdapat banyak anak-anak,” ujar Dujarric dalam keterangan pers di Markas Besar PBB, Rabu (29/10/2025).

Dujarric menegaskan bahwa PBB mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata yang telah disepakati.

Ia menambahkan, serangan terhadap wilayah padat penduduk jelas melanggar hukum humaniter internasional dan berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza yang sudah sangat rentan.

Baca Juga: AS dan Korea Selatan Sepakat Kurangi Tarif dan Perkuat Investasi, Tanda Babak Baru Kerja Sama Ekonomi Dua Negara

Serangan udara terbaru ini dilaporkan terjadi pada Selasa (28/10/2025) di beberapa lokasi, termasuk Kota Gaza, Khan Younis, dan Deir al-Balah. Ledakan besar terdengar di berbagai wilayah, sementara rumah-rumah warga dilaporkan rusak parah. Petugas penyelamat terus berupaya mencari korban di bawah reruntuhan bangunan.

Serangan tersebut disebut sebagai tindak lanjut dari perintah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyerukan “serangan dahsyat” terhadap Hamas.

Langkah itu diklaim sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok tersebut, termasuk serangan terhadap pasukan pertahanan Israel di Rafah serta ketegangan terkait pengelolaan jenazah sandera.

Baca Juga: Pertalite Dikeluhkan Bikin Motor Brebet di Jawa Timur: Pemerintah Turun Tangan, Pertamina Lakukan Investigasi

Padahal, gencatan senjata antara Israel dan Hamas baru saja diberlakukan pada 10 Oktober lalu, berdasarkan kesepakatan damai yang diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kesepakatan tersebut mencakup pertukaran sandera dan tahanan, serta rencana rekonstruksi infrastruktur dasar di Gaza.

Namun, setelah serangan terbaru ini, banyak pihak khawatir perjanjian damai itu akan runtuh. Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan memperparah penderitaan warga Gaza yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Hari Ini di Wilayah Jabodetabek, Sedia Payung untuk Sore Hari!

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X