INSIBERNEWS - Nilai Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) mengalami pergerakan yang cenderung berfluktuasi setelah Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada Rabu (29/10/2025).
Pemangkasan ini sejatinya sudah diprediksi oleh banyak pelaku pasar, namun reaksi investor tetap penuh kehati-hatian karena tidak ada kejutan besar dalam pernyataan bank sentral tersebut.
Dilansir dari FXStreet, Kamis (30/10/2025), langkah The Fed ini membuat DXY masih berada di zona positif dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran 98,90 poin.
Kenaikan ini juga didorong oleh pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields) yang menunjukkan kinerja solid di seluruh tenor, menandakan keyakinan pasar terhadap arah kebijakan moneter yang lebih longgar.
Meskipun keputusan ini sesuai ekspektasi, pasar tampak “dingin” dalam merespons karena pernyataan The Fed kali ini dinilai terlalu hati-hati dan minim sinyal baru.
Beberapa analis menilai bank sentral sengaja menahan diri untuk tidak memberi sinyal terlalu jelas mengenai langkah berikutnya agar tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan.
Sementara itu, The Fed menegaskan bahwa kebijakan pelonggaran masih akan berlanjut. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut mengonfirmasi akan tetap mengurangi program Quantitative Easing (QE) secara bertahap.
Proses penarikan kepemilikan aset berbasis hipotek (mortgage-backed securities) ke dalam surat utang jangka panjang (Treasury) dijadwalkan berlanjut hingga 1 Desember mendatang.
Kebijakan ini menandai pemangkasan suku bunga kedua secara berturut-turut di tahun 2025, setelah sebelumnya The Fed juga menurunkan suku bunga di kuartal ketiga.
Langkah ini menunjukkan bahwa fokus utama The Fed saat ini adalah menstabilkan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat akibat tekanan eksternal, meskipun inflasi menunjukkan tren kenaikan ringan di paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: Prediksi Cuaca Hari Ini di Wilayah Jabodetabek, Sedia Payung untuk Sore Hari!
Beberapa pejabat The Fed dalam notulen rapat terakhir juga menyoroti bahwa tekanan inflasi masih perlu diwaspadai, terutama dari sektor jasa dan energi. Namun, mereka menilai peningkatan tersebut belum cukup signifikan untuk membatalkan arah kebijakan pelonggaran moneter.
Artikel Terkait
Prabowo Ajak Bangsa Tetap Kompak: 'Beda Boleh, Tapi Kita Satu Keluarga Indonesia'
Prabowo Tegaskan Kritik Itu Vitamin Demokrasi, Pemimpin Jangan Takut Dikoreksi!
Sabrina Chairunnisa Gugat Cerai Deddy Corbuzier, Rumah Tangga di Ujung Tanduk
DPR dan Pemerintah Sepakat! Biaya Haji 2026 Turun Jadi Rp87,4 Juta, Jemaah Bayar Rp54,1 Juta
Kasus Kapal Terbakar di Batam Naik ke Penyidikan, Polisi Telusuri Unsur Pidana di Balik Tragedi MT Federal II
KABAR BAIK! Biaya Haji 2026 Resmi Turun Rp2,8 Juta, Jemaah Cuma Bayar Rp54 Juta
EKSKLUSIF! Klaim 'Koboi' Menkeu Purbaya: Bukan Sekadar Juru Bicara, Tapi 'Tangan Kanan' Inti Presiden Prabowo?
Prediksi Cuaca Hari Ini di Wilayah Jabodetabek, Sedia Payung untuk Sore Hari!
Pertalite Dikeluhkan Bikin Motor Brebet di Jawa Timur: Pemerintah Turun Tangan, Pertamina Lakukan Investigasi
AS dan Korea Selatan Sepakat Kurangi Tarif dan Perkuat Investasi, Tanda Babak Baru Kerja Sama Ekonomi Dua Negara