“Salah satu fokus pemerintah adalah mendorong upaya terintegrasi dalam pengembangan ekonomi sirkular di bidang persampahan, iklim dan biodiversitas. Dalam bidang persampahan, pemerintah melalui rancangan Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam penerapan berbagai skema ekonomi hijau yang berkelanjutan yaitu salah satunya pelaksanaan kewajiban produsen yang diperluas,” Dr Hanif menegaskan pesannya.
Dalam kesempatan sama, Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia menyampaikan, "WWF-Indonesia sebagai lembaga yang berbasis sains telah melakukan serangkaian kajian dampak sampah plastik terhadap keanekaragaman hayati, krisis iklim. Untuk mengatasinya, kami menjalankan program Plastic Smart Cities. Melalui program ini, kami bertekad untuk mengurangi kebocoran plastik ke alam dengan cara mendukung kerja-kerja pengurangan sampah plastik melalui mitra-mitra kami.”
Baca Juga: Ketegangan Meningkat, Israel Serang Gaza Setelah Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Aditya melanjutkan keterangannya, "Kami mendukung penuh target pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mengelola sampah plastik dan sangat mengapresiasi langkah kebijakan yang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam penanganan sampah dan penegakan hukumnya, serta langkah inovasi mengatasi tingginya timbulan sampah saat ini."
Triple Planetary Crisis menjadi ancaman nyata dan sebagai lembaga konservasi lingkungan, WWF menginisiasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan isu penanganan pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Salah satunya, penanganan polusi plastik di alam. Pada 2019 WWF mulai menginisiasi kampanye No Plastic in Nature, yang disusul dengan implementasi proyek Plastic Smart Cities di Indonesia dengan advokasi kebijakan dan mendorong penerapan sirkular ekonomi dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga: Bahlil Sebut Transformasi Biodiesel dan Etanol Bisa Kurangi Ketergantungan Impor BBM
Mengadopsi prinsip ekonomi sirkular menjadi kunci untuk memutus simpul permasalahan secara bersamaan dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Ekonomi sirkular mengubah cara kita dalam memproduksi, mengonsumsi, dan mengelola material dengan mengeliminasi polusi sejak desain, mensirkulasi bahan mulai dari daur ulang dan guna ulang; serta meregenerasi sistem alam.
Dengan pendekatan ini sekaligus kita mengurangi emisi gas rumah kaca dari produksi resin, praktik pembuangan tak terkendali, menekan kebocoran polutan, dan memulihkan ekosistem.
Baca Juga: Amazon Bakal PHK 30 Ribu Karyawan Korporat, Efisiensi dan AI Jadi Alasan Utama
Forum diskusi ini sekaligus menjadi wadah dialog dan kolaborasi antara pemangku kepentingan—pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil—untuk memperkuat implementasi aksi Extended Producer Responsibility (EPR) di tingkat nasional.
Melalui acara berbagi wawasan, menggali inovasi hingga rekomendasi aksi nyata ini, pemerintah dan masyarakat sipil berharap, sinergi para pihak dapat diterjemahkan program-program yang dampaknya dapat dirasakan oleh alam dan generasi mendatang.***
Artikel Terkait
Asik Dugem dengan Baju Sexy, Mahasiswi Penerima KIP di UNS Kena Sanksi Konseling dan Bantuan Dicabut
Kejagung Geledah Lima Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Ekspor Limbah Sawit 2022
Presiden Prabowo Genjot Renovasi Rumah Tak Layak Huni, Target Capai 400 Ribu Unit di 2026
Dana Sitaan Rp13,2 Triliun Digerakkan untuk Perkuat LPDP, Pemerintah Tambah Total Jadi Rp25 Triliun
Menjadi Sosok Fenomenal, Pengamat Sebut Ceplas-ceplosnya Menkeu Purbaya Buat Masyarakat Melek soal Pemerintahan
Paris Diguncang Kasus Rumor Keji soal Istri Presiden Macron, 10 Orang Diadili