INSIBERNEWS - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah kolera sedang meningkat secara signifikan di berbagai belahan dunia. Hingga tahun 2025, lebih dari 400.000 kasus telah dilaporkan di 31 negara terdampak, menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
WHO menekankan bahwa perpindahan penduduk akibat konflik, bencana alam, dan dampak perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperburuk penyebaran kolera.
Daerah pedesaan dan wilayah yang sering terdampak banjir paling rentan karena infrastruktur kesehatan yang terbatas dan akses ke layanan medis yang masih minim.
Baca Juga: YLBHI Desak Kapolri Mundur, Sebut Polri Gagal Ubah Watak Represif
Beberapa negara yang sebelumnya relatif bebas dari kolera kini kembali melaporkan kasus signifikan. Menurut laporan SANA, Sabtu, 30 Agustus 2025, Kongo dan Chad mencatat tingkat kematian tertinggi akibat kolera, masing-masing mencapai 7,7 persen dan 6,8 persen dari total kasus. Angka ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara dengan sistem kesehatan yang rentan.
Kolera adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pencernaan, terutama diare akut, akibat konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae.
Penyakit ini bisa menyebar cepat, terutama di komunitas dengan sanitasi yang buruk atau pasokan air bersih yang terbatas.
Baca Juga: Mandat UNIFIL Berakhir, PBB Siap Tarik Pasukan Penjaga Perdamaian dari Lebanon
Meskipun begitu, kolera termasuk penyakit yang bisa ditangani dengan efektif jika ditangani sejak awal. Rehidrasi oral atau infus dapat menyelamatkan nyawa, sementara antibiotik diberikan untuk kasus yang lebih berat. Tanpa penanganan cepat, kolera bisa berakibat fatal hanya dalam beberapa jam.
WHO mengingatkan bahwa langkah pencegahan menjadi kunci untuk menekan penyebaran. Penyediaan air bersih, sanitasi yang memadai, serta edukasi kesehatan masyarakat menjadi strategi utama untuk mengurangi risiko infeksi. Program vaksinasi kolera juga mulai diperluas di beberapa wilayah terdampak.
Baca Juga: Kericuhan di Rumah Anggota DPR Ahmad Sahroni, Warga Rusak dan Menjarah Kediaman
Para pakar menyoroti bahwa perubahan iklim yang ekstrem, seperti hujan deras dan banjir, memperparah kondisi penyebaran kolera. Air yang tergenang dan sanitasi yang rusak menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri berkembang biak. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana menjadi bagian penting dari strategi kesehatan global.
Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan memaksa jutaan orang mengungsi, membawa risiko penyebaran penyakit di kamp pengungsian yang padat.
WHO menekankan perlunya kolaborasi internasional untuk menyediakan bantuan darurat, termasuk fasilitas medis, air bersih, dan obat-obatan bagi populasi terdampak.
Artikel Terkait
18 Nama Usulan Prabowo Bakal Diseleksi DPR untuk Ketua-Anggota BPH Migas
Puan Maharani Melayat dan Pastikan Bantuan untuk Keluarga Affan Kurniawan
Gaji Tetap vs Upah Per-Jam: Pilih Sistem yang Tepat untuk Stabilitas Finansial dan Gaya Hidup
Kementerian Transmigrasi Percepat Penyelesaian Sertifikasi Lahan untuk Hindari Konflik
PLN Genjot Energi Panas Bumi di Bengkulu, Targetkan Tambah Kapasitas Listrik 220 MW
Mauro Zijlstra Resmi Jadi WNI, Siap Bela Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia
Pertandingan Persita vs Semen Padang Ditunda Imbas Situasi Kamtibmas di Banten
Kericuhan di Rumah Anggota DPR Ahmad Sahroni, Warga Rusak dan Menjarah Kediaman
Mandat UNIFIL Berakhir, PBB Siap Tarik Pasukan Penjaga Perdamaian dari Lebanon
YLBHI Desak Kapolri Mundur, Sebut Polri Gagal Ubah Watak Represif