BI Prediksi The Fed Akan Turunkan Suku Bunga Dua Kali di Paruh Kedua 2025

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Senin, 25 Agustus 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (dok ist)
Ilustrasi Bank Indonesia (dok ist)

INSIBERNEWS - Bank Indonesia (BI) memandang arah kebijakan moneter global, khususnya dari Amerika Serikat, mulai bergerak ke fase yang lebih longgar.

Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), berpeluang memangkas suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) sebanyak dua kali pada semester II tahun 2025.

Baca Juga: Cuaca Jakarta Hari Ini: Cerah Pagi, Waspada Hujan Petir Sore

Menurut Perry, potensi penurunan tersebut sejalan dengan tren inflasi di Amerika Serikat yang terus melemah dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat ruang gerak The Fed untuk mengubah arah kebijakan moneter semakin terbuka lebar.

“Kami melihat kemungkinan besar The Fed akan menurunkan Fed Funds Rate dua kali di paruh kedua tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin,” ujar Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI, Minggu (24/8/2025).

Baca Juga: Denny Sumargo Pernah Undang Reza Gladys dan Pihak Nikita Mirzani di Podcastnya, Densu Ungkap Pengen Kawal Kasus Mereka Dengan Baik

Ekspektasi pasar global pun belakangan ikut menguat. Investor di Wall Street dan pelaku pasar obligasi AS mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga tersebut.

Pasalnya, inflasi di AS sudah mendekati target bank sentral yakni di kisaran 2 persen, setelah sebelumnya sempat bertahan tinggi akibat lonjakan harga energi dan pangan.

Di sisi lain, langkah The Fed menurunkan suku bunga juga dipandang penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS. Dengan tren perlambatan ekonomi global, penurunan FFR diharapkan bisa memberikan stimulus agar konsumsi dan investasi tidak tertekan terlalu dalam.

Baca Juga: Selamatkan PSM Makassar dari Kekalahan! Ini Biodata-Profil Abu Kamara yang Cetak Gol vs Semen Padang

Bagi Indonesia, kebijakan moneter The Fed tentu memiliki pengaruh signifikan. Perry menegaskan, BI terus memantau dinamika global tersebut karena perubahan suku bunga di AS biasanya berdampak pada arus modal, nilai tukar rupiah, hingga stabilitas pasar keuangan domestik.

Meski demikian, BI menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat untuk menghadapi perubahan eksternal. Stabilitas inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Baca Juga: PHK Mengintai 40 Ribu Pekerja Tekstil Bila Pemerintah Terapkan BMAD Sebesar 45 Persen terhadap Bahan Baku China

Dengan proyeksi The Fed yang mulai mengarah ke pelonggaran, Perry optimistis sentimen positif akan mengalir ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X