INSIBERNEWS - Kebijakan ekonomi Donald Trump pada masa jabatan keduanya sebagai Presiden Amerika Serikat mulai menuai kritik tajam. Tarif impor tinggi dan pembatasan imigrasi yang diterapkan disebut-sebut berisiko menyeret ekonomi AS ke jurang resesi. Peringatan serius ini datang dari analis utama Moody’s, Mark Zandi.
Lembaga pemeringkat internasional itu mengeluarkan pandangan terbarunya tak lama setelah Biro Statistik Tenaga Kerja merilis laporan terbaru.
Baca Juga: Hyundai dan BAIC Luncurkan EO, SUV Listrik Perdana di Pasar China September 2025
Data menunjukkan penambahan lapangan kerja di AS melambat drastis, hanya bertambah rata-rata 35.000 per bulan dari Mei hingga Juli. Angka ini bahkan kurang dari sepertiga pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi laju terlemah sejak pandemi 2020.
Menurut Zandi, tren tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi Amerika sedang berada di “tepi jurang” resesi. Ia menekankan bahwa perlambatan pasar tenaga kerja kerap menjadi indikator awal pelemahan ekonomi secara keseluruhan.
Baca Juga: Big Hit Music Bantah Kabar BTS Terlibat Album Tribute Michael Jackson
“Lapangan kerja adalah mesin utama ekonomi. Jika mesin ini mulai melambat, akan sulit bagi pertumbuhan ekonomi untuk tetap stabil,” jelasnya.
Selain pasar kerja, indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan gejala perlambatan. Pengeluaran konsumen pada Juni tercatat hanya tumbuh 0,1% setelah disesuaikan dengan inflasi. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan mencerminkan menurunnya daya beli masyarakat.
Baca Juga: KPK Panggil Yaqut Cholil Besok Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji Khusus
Sementara itu, inflasi tahunan di bulan yang sama melonjak 2,7% — tertinggi sejak Februari. Kenaikan harga ini ikut membebani rumah tangga dan menekan belanja, yang selama ini menjadi motor utama ekonomi AS.
Di sektor industri, kondisi pun tak lebih baik. Aktivitas pabrik dilaporkan mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut. Pelemahan pesanan baru dan penurunan jumlah pekerja menjadi tanda bahwa sektor manufaktur juga tengah berada di bawah tekanan.
Baca Juga: BRI Dukung Realisasi Program 3 Juta Rumah Subsidi Melalui Penambahan Kuota FLPP 25,000 Unit
Moody’s menilai, kombinasi kebijakan perdagangan proteksionis dan pengetatan imigrasi membuat iklim ekonomi AS semakin tertekan.
Tarif impor tinggi memicu kenaikan biaya produksi, sementara pembatasan tenaga kerja imigran berpengaruh terhadap ketersediaan pekerja di sektor-sektor vital.
Artikel Terkait
BRI Sabet Penghargaan ASEAN Corporate Governance Scorecard, Wujud Konsistensi Tata Kelola yang Unggul
Viral Insiden KRL Arah Bogor ke Jakarta Kota Anjlok, KAI Kini Terapkan Rekayasa Rute
Oknum Debt Collector di Depok Diduga Beli Data Pribadi Warga Tuk Modus Penarikan Kendaraan di Jalan
Tom Lembong Resmi Laporkan Tiga Hakim yang Jatuhkan Vonis 4,5 Tahun ke Mahkamah Agung
JPU Tuntut Fariz RM 6 Tahun Penjara atas Kasus Narkoba, Pengacara: Pengguna tapi Dituntut Sebagai Pengedar
Update Ledakan Sumur Minyak Pertamina EP Subang, Tim Investigasi Langsung Dibentuk
Geger! Mayat Perempuan Misterius Ditemukan di Bumi Perkemahan Bantul, Polisi Turun Tangan
Tragis! Motor Terseret 50 Meter, Bayi 2 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Jalur Lintas Barat Mamuju usai Ditabrak Mobil
BRI Dukung Realisasi Program 3 Juta Rumah Subsidi Melalui Penambahan Kuota FLPP 25,000 Unit
KPK Panggil Yaqut Cholil Besok Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji Khusus