Trik Kotor Limbah Dunia Terbongkar: Indonesia Dijadikan Tempat Buang Sampah Global

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 9 Juli 2025 | 17:57 WIB
Desa Gampingan, Jawa Timur, berubah menjadi lautan sampah global (Navernews)
Desa Gampingan, Jawa Timur, berubah menjadi lautan sampah global (Navernews)

INSIBERNEWS – Desa Gampingan, sebuah desa kecil di Malang, Jawa Timur, kini berubah menjadi lautan sampah.

Di setiap sudut rumah warga, tumpukan limbah menggunung hingga setinggi pinggang.

Halaman rumah tak lagi hijau, melainkan tertutup plastik dan bungkus produk asing yang bahkan belum tentu dikenal penghuninya.

Baca Juga: Ryu Junyeol Tulis Pesan Cinta dalam Unggahannya, Netizen: Ini Tentang Han Sohee atau Hyeri?

Di antara gunungan sampah, tergeletak bungkus mi instan Shin Ramyeon rasa keju varian eksklusif dari Jepang dan kemasan makanan dari Australia, Kanada, Eropa, hingga Taiwan.

Tapi warga Gampingan bukanlah konsumen produk-produk ini. Mereka tak pernah membelinya. Lalu, dari mana datangnya?

Tepat di sisi desa, berdiri pabrik kertas besar bernama Ekamas Fortuna, yang memproduksi kertas dari daur ulang limbah impor.

Baca Juga: Tragis! Berawal dari Cabut Gigi di Klinik, Hengki Alami Kebutaan Permanen

Sayangnya, limbah kertas yang didatangkan dari berbagai negara ini tidak bersih. Plastik, kemasan makanan, hingga limbah rumah tangga asing ikut masuk ke Indonesia, lalu menumpuk di desa.

Potongan kertas bernilai dipisahkan di pabrik, sementara sisanya yang sudah tercampur bahan tak berguna dijual murah ke warga.

Warga pun memilah sisa limbah tersebut dengan tangan kosong, mengeringkan kertasnya, lalu menjual kembali ke pabrik.

Baca Juga: Rencana Pernikahan Hancur, Hani EXID Curhat Soal Hidup: 'Apakah Aku Boleh Hidup Seperti Ini?'

Harga satu truk sampah sekitar Rp150.000, dan jika beruntung, satu keluarga bisa meraup hingga Rp900.000 dari hasil penjualan kertas.

Bagi sebagian keluarga, ini bisa menjadi penghasilan bulanan hingga Rp3,5 juta.

“Saya sudah 30 tahun beli sampah. Sampah dari Korea pernah paling banyak dulu,” ujar seorang warga.

Baca Juga: Salah Lirik Saat Nyanyikan Lagu Indonesia Raya di Turnamen Piala Presiden 2025, Rita Butar Butar Tuai Sorotan

Sejak pabrik mulai beroperasi pada 1993, warga Gampingan perlahan meninggalkan pertanian.

Tanaman kol digantikan oleh karung-karung plastik dan limbah. Bukan karena pilihan, tetapi karena memilah sampah terbukti lebih menjanjikan secara ekonomi.

Ironisnya, praktik ini berjalan tanpa pengawasan ketat. Padahal, secara hukum, pabrik tak boleh membuang limbah padat ke warga.

Baca Juga: BRI Berhasil Salurkan Bantuan Subsidi Upah Senilai Rp1,72 Triliun ke 2,8 Juta Pekerja

Namun, selama tiga dekade, truk-truk sampah terus berdatangan tanpa henti, mengalirkan limbah dari negara-negara maju ke desa kecil ini.

Pada 2021, Konvensi Basel diperbarui untuk mengendalikan pergerakan plastik tercemar lintas negara.

Tapi celah tetap ada, plastik sering “disamarkan” dalam ekspor limbah kertas, pakaian, dan elektronik.

Baca Juga: Awalnya Menolak, Mantan Suami Lee Si Young Angkat Bicara Soal Kehamilan Anak Ke-2

Menurut laporan Ecoton, Indonesia menerima lebih dari 2,4 juta ton limbah kertas impor pada 2024—dengan sebagian besar berasal dari Australia, AS, Belanda, dan negara maju lainnya.

Kertas impor ini diperkirakan mengandung 5 hingga 30 persen plastik tersembunyi.

Di balik angka-angka tersebut, tersembunyi risiko besar bagi warga Gampingan.

Baca Juga: Janji Pembangunan Tinggal Wacana, Dana Desa Cipaku Raib Demi Judi Online dan Diamond Game

Paparan bahan kimia berbahaya dari plastik, kerja fisik berat, dan lingkungan tercemar kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dunia mungkin tak tahu nama Desa Gampingan. Tapi dari bungkus makanan anjing asal Eropa hingga deterjen Jepang yang tak pernah mereka gunakan, desa kecil ini diam-diam memikul beban limbah global.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X