INSIBERNEWS - Sejumlah produsen di China kini mulai merasakan dampak nyata dari tarif tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Beberapa perusahaan yang sebelumnya bergantung pada pasar AS terpaksa menghentikan sebagian besar operasional mereka dan mencari pasar alternatif.
Dampak ini juga mulai dirasakan di sektor tenaga kerja, dengan beberapa pabrik yang harus merumahkan karyawan mereka karena penurunan pesanan.
Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Usulkan Wajib Militer bagi Pelajar Bermasalah, Ini Tujuannya
Cameron Johnson, mitra senior di firma konsultan Tidalwave Solutions yang berbasis di Shanghai, mengungkapkan bahwa beberapa pabrik di China, terutama yang memproduksi mainan, peralatan olahraga, serta barang-barang murah yang biasa ditemukan di toko diskon, mengalami penurunan permintaan signifikan.
Baca Juga: Kapal Pengangkut Mobil Terbesar Dunia Milik BYD Mulai Pelayaran Perdana, Bawa 7.000 EV ke Brasil
"Ada pabrik yang meminta karyawannya pulang selama beberapa minggu karena pesanan dari pasar AS berkurang drastis," jelas Johnson dalam wawancara, dilansir dari Media Internasional CNBC, Senin (28/4/2025).
Menurut Johnson, pusat-pusat produksi besar di Yiwu dan Dongguan menjadi wilayah yang paling merasakan dampak dari kebijakan tarif tersebut.
Baca Juga: Balita Ditemukan Tewas Terbakar di Kamar Kontrakan Kosambi, Polisi Kejar Pelaku
Meskipun fenomena ini belum terjadi dalam skala yang sangat besar, kekhawatiran terus berkembang bahwa kondisi ini dapat meluas, terutama jika tarif tidak segera dikaji ulang atau diturunkan.
“Ada harapan agar tarif ini bisa diturunkan sehingga pesanan kembali mengalir, namun sampai saat itu tiba, beberapa perusahaan terpaksa merumahkan karyawan dan menghentikan produksi,” tambahnya.
Baca Juga: Penemuan Mayat di Penginapan Cibuntu, Polres Bekasi Selidiki Kasus Pembunuhan
Kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan AS telah membuat perusahaan-perusahaan China menyesuaikan diri dengan mencari pasar baru yang lebih menguntungkan.
Namun, proses transisi ini tidak mudah dan memerlukan waktu serta investasi yang besar. Beberapa perusahaan bahkan harus berinovasi dan memperluas jangkauan produk untuk menjangkau konsumen di negara-negara lain, seperti Eropa dan Asia Tenggara.
Baca Juga: ASDP Indonesia Ferry Perluas Jangkauan di Kawasan Timur, Dukung Pariwisata dan Ekonomi Papua
Artikel Terkait
Oknum Polisi Terlibat Perampokan Minimarket di Pati, Satu Tersangka Lainnya Ditangkap
Debat Dengan Dedi Mulyadi Soal Penghapusan Wisuda, Aura Cinta Pernah Bintangi Iklan Pinjaman Online
Krisis Pangan Gaza Memburuk: Anak-Anak Bertahan Hidup dari Bantuan yang Tertahan
Bobby Nasution Sambangi Kantor KPK, Ada Apa?
Segera Hadir di Kota Serang, CoreLab Promedia Ajak Mahasiswa Mengenal Seputar Dunia Content Creator
Mobil Mewah Milik Ridwan Kamil Disita KPK, Terkait Kasus Korupsi Bank BJB
BPK Temukan Kerugian Negara Rp1 Triliun dalam Kasus Dugaan Korupsi Investasi PT Taspen
Penemuan Mayat di Penginapan Cibuntu, Polres Bekasi Selidiki Kasus Pembunuhan
Balita Ditemukan Tewas Terbakar di Kamar Kontrakan Kosambi, Polisi Kejar Pelaku
Gubernur Dedi Mulyadi Usulkan Wajib Militer bagi Pelajar Bermasalah, Ini Tujuannya