Selain Zelensky, Trump juga sempat berbincang dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Kunjungan ke Roma ini sebenarnya merupakan perubahan dari agenda awal Trump, yang tadinya dijadwalkan ke Arab Saudi sebagai kunjungan luar negeri pertamanya setelah kembali menjabat.
Namun, dengan wafatnya Paus Fransiskus, seluruh jadwal diplomatik pun berubah total.
Baca Juga: Tito Karnavian Buka Wacana Revisi UU Ormas, Soroti Pengawasan dan Transparansi Keuangan
Perundingan Perdamaian: Masih Banyak PR
Di sisi lain, tekanan Amerika Serikat terhadap Ukraina untuk mempercepat tercapainya kesepakatan damai makin terasa.
Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, bahkan sudah bertemu langsung dengan Presiden Putin di Moskow. Pertemuan tiga jam itu disebut Kremlin sebagai "konstruktif", walau belum ada hasil konkret.
Di Kiev, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tetap terbuka untuk dialog, tapi dengan satu syarat utama: gencatan senjata penuh tanpa prasyarat.
Ia juga menolak keras pengakuan terhadap aneksasi Krimea oleh Rusia, menyebutnya bertentangan dengan konstitusi Ukraina.
Sebuah draf "Kerangka Kerja Kesepakatan Ukraina" yang bocor ke media mengusulkan penghentian tembak-menembak total, jaminan keamanan dari Amerika dan negara lain, tapi tidak menyentuh isu Krimea. Ini tentu saja jadi tantangan berat dalam negosiasi ke depan.
Baca Juga: Setelah 21 Tahun Berkuasa, Mahmoud Abbas Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Penerus Resmi
Di Lapangan, Perang Masih Berkobar
Walaupun ada upaya diplomasi, medan perang belum menunjukkan tanda-tanda reda. Putin mengklaim Rusia telah merebut kembali wilayah Kursk, yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Namun klaim ini langsung dibantah oleh militer Ukraina, yang menyebut operasi pertahanan di wilayah tersebut masih berlangsung sengit.
Menurut laporan CNN, Trump sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi dengan lambannya kemajuan pembicaraan damai.
Ia mengakui bahwa menjadi mediator dalam konflik Ukraina jauh lebih kompleks dari yang dia bayangkan.
Baca Juga: Ledakan Dahsyat di Bandar Abbas: 1.100 Lebih Korban Luka, 14 Orang Dilaporkan Tewas
Artikel Terkait
Dari Filsafat Yunani ke Globe Interaktif: Sejarah dan Perkembangan Globe Dunia
5 Zodiak yang Paling Menyukai Sejarah dan Menghargai Masa Lalu
Mengapa Mayoritas Penduduk Australia Tinggal di Pesisir Pantai?
Populasi Kangguru Lebih Banyak dari Manusia! Ini Fakta Uniknya
Berkat Pemberdayaan BRI, UMKM Kopi Serius Pangan Nusantara Berhasil Tumbuh hingga Go Global
Ledakan Dahsyat di Bandar Abbas: 1.100 Lebih Korban Luka, 14 Orang Dilaporkan Tewas
Setelah 21 Tahun Berkuasa, Mahmoud Abbas Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Penerus Resmi
Tito Karnavian Buka Wacana Revisi UU Ormas, Soroti Pengawasan dan Transparansi Keuangan
Status Ojol Bakal Diubah Jadi Pelaku UMKM, Grab: Perlu Pertimbangkan Fleksibilitas Kemitraan
Rusia Akui Pasukan Korea Utara Turun Tangan di Perang Ukraina, Kiev Bantah Klaim Moskow