INSIBERNEWS - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) akhirnya angkat bicara soal maraknya gangguan dari oknum organisasi masyarakat (ormas) yang kerap menimbulkan keresahan di kawasan industri otomotif.
Aksi-aksi tersebut, yang menurut pelaku industri sudah menyerupai praktik premanisme, ternyata bukan fenomena baru. Bahkan, menurut Gaikindo, masalah ini telah berlangsung sejak dekade 1990-an dan semakin terasa sejak era reformasi 1998.
Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap Strategi RI di Tengah Arah Baru Diplomasi Ekonomi AS
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa sejak lama berbagai perusahaan otomotif menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan ormas, dengan dalih membantu, namun justru sering memunculkan intimidasi.
"Gangguan seperti ini sudah kami alami cukup lama, bahkan sejak era reformasi. Tapi kami tidak tinggal diam. Saat ini, kami sedang berupaya keras mencari solusi dengan melibatkan berbagai pihak,” kata Kukuh saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa Gaikindo secara aktif telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan aparat penegak hukum serta pemerintah daerah guna menciptakan situasi yang kondusif bagi seluruh pelaku industri.
Produsen otomotif, baik yang sudah memiliki pabrik maupun yang sedang dalam tahap pembangunan fasilitas baru, disebut Kukuh, telah mengambil langkah antisipatif demi melindungi investasi dan kelangsungan operasional mereka.
Kukuh juga menegaskan bahwa keberlangsungan investasi otomotif di Indonesia sangat tergantung pada stabilitas dan rasa aman di lingkungan industri. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan menurunkan minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
Karena itu, peran aktif pemerintah pusat hingga daerah sangat krusial dalam menertibkan oknum-oknum yang meresahkan tersebut.
Lebih jauh, Gaikindo berharap adanya dukungan sistemik dan regulasi yang tegas dari pemerintah untuk menghindari praktik-praktik yang merugikan dunia usaha. Menurut Kukuh, kawasan industri seharusnya menjadi tempat yang aman, produktif, dan profesional.
“Kami ingin memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik, apalagi industri otomotif punya potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gelar Open House di Istana Merdeka pada 31 Maret
Jalur Arteri Karawang Rusak, 22 Pemudik Motor Jatuh: Kementerian PU Minta Maaf, Bupati Ancam Ambil Alih Perbaikan
1,65 Juta Kendaraan Sudah Keluar dari Jakarta, Kakorlantas Siapkan Strategi Hadapi Arus Balik Lebaran
Fantasi Kelam di Balik Jas Putih Dokter RSHS Bandung Tersangka Pemerkosaan Pasien
Pembangunan Tahap II IKN Resmi Dimulai, Rp48,8 Triliun Disiapkan untuk Wujudkan Kota Politik Baru
Heboh Bau Gas dan Bensin Misterius dari Bekasi Kabupaten dan Kota hingga Jakarta Timur, Warga Resah dan Tak Bisa Tidur Semalaman
Debt Collector Rusuh di Polsek Bukit Raya Pekanbaru, Kapolda Riau Murka, Kapolsek Dicopot, 4 Pelaku Ditangkap Polisi
Prabowo Subianto Terbangkan Drone Tebar Benih Padi di Palembang
Transaksi BPHTB di Jakarta Kini Lebih Cepat dan Praktis Lewat Pajak Online
Makin Bertambah, Intip Deretan Kasus Keracunan MBG Sejak Peluncurannya di Sekolah