Israel Dituding Palsukan Penemuan Terowongan di Gaza untuk Gagalkan Gencatan Senjata

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 23 April 2025 | 09:53 WIB
Gencatan Senjata Israel di Ujung Tanduk (Gambar oleh hosny salah dari Pixabay)
Gencatan Senjata Israel di Ujung Tanduk (Gambar oleh hosny salah dari Pixabay)

INSIBERNEWS - Laporan investigasi dari media Israel KAN mengungkap dugaan manipulasi informasi oleh militer Israel terkait "penemuan" sebuah terowongan di Koridor Philadelphi—jalur sempit di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir.

Dalam laporannya, KAN menyebut bahwa struktur yang dipublikasikan sebagai terowongan pada Agustus 2024 lalu ternyata hanya sebuah kanal dangkal yang diselimuti debu.

Baca Juga: Pemerintah Siap Tampung Warga Gaza, Pangkal Pinang Jadi Salah Satu Lokasi Alternatif

Dugaan ini menimbulkan kecurigaan bahwa informasi tersebut sengaja dimanipulasi untuk menghambat tercapainya kesepakatan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.

Menurut KAN, kebohongan soal terowongan tersebut bukan hanya bertujuan mengulur proses negosiasi, tetapi juga untuk membangun narasi bahwa Koridor Philadelphi memiliki nilai strategis yang jauh lebih penting dari kenyataannya.

Baca Juga: Bahas Soal Gaza, Paus Fransiskus Sampaikan Pesan Paskah Terakhir Ini Sehari Sebelum Meninggal Dunia

Salah satu narasumber yang dikutip bahkan menyebut struktur tersebut hanya sedalam satu meter, namun dipublikasikan secara menyesatkan seolah-olah itu adalah jalur bawah tanah yang dalam dan berbahaya.

Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, disebut-sebut mengakui temuan ini. Ia mengatakan bahwa tidak ada terowongan di sana, dan narasi yang dibangun kala itu memang bertujuan menghalangi kesepakatan gencatan senjata.

Baca Juga: Gubernur Bengkulu Siap Tampung Warga Gaza, Siapkan Rumah Dinas hingga 100 Dokter Spesialis

“Itu hanya kanal yang ditutupi debu, tapi dipoles jadi ancaman besar agar publik mendukung operasi militer lanjutan,” ujar Gallant sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Militer Israel sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atas laporan investigatif tersebut. Namun di tengah polemik ini, Hamas menegaskan bahwa penghentian total agresi militer dan penarikan pasukan dari Gaza tetap menjadi syarat utama dalam perjanjian pertukaran sandera yang sedang dirundingkan.

Baca Juga: Lebih dari 250 Mantan Pejabat Mossad Serukan Penghentian Perang di Gaza

Ketegangan kembali meningkat sejak 18 Maret 2025, saat Israel melancarkan serangan baru ke Gaza yang otomatis membatalkan kesepakatan gencatan senjata yang sempat berjalan selama dua bulan.

Konflik berkepanjangan ini telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Hingga April 2025, lebih dari 51.200 warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—dilaporkan tewas di Jalur Gaza sejak serangan besar Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X