INSIBERNEWS - Laporan investigasi dari media Israel KAN mengungkap dugaan manipulasi informasi oleh militer Israel terkait "penemuan" sebuah terowongan di Koridor Philadelphi—jalur sempit di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir.
Dalam laporannya, KAN menyebut bahwa struktur yang dipublikasikan sebagai terowongan pada Agustus 2024 lalu ternyata hanya sebuah kanal dangkal yang diselimuti debu.
Baca Juga: Pemerintah Siap Tampung Warga Gaza, Pangkal Pinang Jadi Salah Satu Lokasi Alternatif
Dugaan ini menimbulkan kecurigaan bahwa informasi tersebut sengaja dimanipulasi untuk menghambat tercapainya kesepakatan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.
Menurut KAN, kebohongan soal terowongan tersebut bukan hanya bertujuan mengulur proses negosiasi, tetapi juga untuk membangun narasi bahwa Koridor Philadelphi memiliki nilai strategis yang jauh lebih penting dari kenyataannya.
Baca Juga: Bahas Soal Gaza, Paus Fransiskus Sampaikan Pesan Paskah Terakhir Ini Sehari Sebelum Meninggal Dunia
Salah satu narasumber yang dikutip bahkan menyebut struktur tersebut hanya sedalam satu meter, namun dipublikasikan secara menyesatkan seolah-olah itu adalah jalur bawah tanah yang dalam dan berbahaya.
Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, disebut-sebut mengakui temuan ini. Ia mengatakan bahwa tidak ada terowongan di sana, dan narasi yang dibangun kala itu memang bertujuan menghalangi kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Gubernur Bengkulu Siap Tampung Warga Gaza, Siapkan Rumah Dinas hingga 100 Dokter Spesialis
“Itu hanya kanal yang ditutupi debu, tapi dipoles jadi ancaman besar agar publik mendukung operasi militer lanjutan,” ujar Gallant sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Militer Israel sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atas laporan investigatif tersebut. Namun di tengah polemik ini, Hamas menegaskan bahwa penghentian total agresi militer dan penarikan pasukan dari Gaza tetap menjadi syarat utama dalam perjanjian pertukaran sandera yang sedang dirundingkan.
Baca Juga: Lebih dari 250 Mantan Pejabat Mossad Serukan Penghentian Perang di Gaza
Ketegangan kembali meningkat sejak 18 Maret 2025, saat Israel melancarkan serangan baru ke Gaza yang otomatis membatalkan kesepakatan gencatan senjata yang sempat berjalan selama dua bulan.
Konflik berkepanjangan ini telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Hingga April 2025, lebih dari 51.200 warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—dilaporkan tewas di Jalur Gaza sejak serangan besar Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Artikel Terkait
Israel Laporkan Komunikasi dengan Indonesia untuk Relokasi Warga Gaza, Pemerintah RI Belum Beri Pernyataan Resmi
Kemlu Bantah Isu Pemindahan 100 Warga Gaza ke Indonesia
Israel Perluas Serangan Darat di Gaza Selatan, Rafah Jadi Target Terbaru
Gempuran Israel di Gaza Berlanjut, Puluhan Warga Palestina Meninggal Dunia
Prabowo Siap Ungsikan Korban Perang Gaza, Indonesia Buka Pintu Kemanusiaan
Menlu Tegaskan Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia Tergantung Kesepakatan Negara-Negara Timur Tengah
Lebih dari 250 Mantan Pejabat Mossad Serukan Penghentian Perang di Gaza
Gubernur Bengkulu Siap Tampung Warga Gaza, Siapkan Rumah Dinas hingga 100 Dokter Spesialis
Bahas Soal Gaza, Paus Fransiskus Sampaikan Pesan Paskah Terakhir Ini Sehari Sebelum Meninggal Dunia
Pemerintah Siap Tampung Warga Gaza, Pangkal Pinang Jadi Salah Satu Lokasi Alternatif