INSIBERNEWS - Pemerintahan Donald Trump mengambil langkah cukup mengejutkan di tengah kebijakan tarif tinggi terhadap produk impor dari China.
Dalam pengumuman resmi yang dirilis oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat pada Jumat lalu, pemerintah AS menetapkan bahwa produk elektronik seperti ponsel pintar, komputer, chip, hingga komponen penting lainnya kini dibebaskan dari beban tarif.
Kebijakan ini berlaku efektif untuk barang-barang yang masuk ke wilayah Amerika Serikat atau keluar dari gudang pengiriman mulai 5 April. Artinya, semua perangkat dan komponen elektronik yang termasuk dalam daftar tersebut bisa masuk ke pasar AS tanpa dikenakan tarif tambahan.
Langkah ini dinilai sebagai angin segar, terutama bagi raksasa-raksasa teknologi yang selama ini sangat bergantung pada lini produksi di China.
Baca Juga: Piyu Padi Pastikan Lagu-Lagu Titiek Puspa Tetap Hidup dan Terlindungi Lewat Sistem Royalti Digital
Sebelumnya, pemerintahan Trump memberlakukan tarif impor yang cukup tajam—yakni minimal 145 persen—untuk berbagai produk asal China.
Kebijakan tersebut sempat memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku industri teknologi, mengingat banyak perusahaan berbasis di Amerika yang memproduksi atau merakit perangkat mereka di negeri Tirai Bambu.
Baca Juga: Marc Marquez Nggak Ada Lawan, Sapu Bersih GP Qatar dan Lanjutkan Tren Kemenangan di MotoGP 2025
Salah satu yang paling terdampak adalah Apple. Berdasarkan laporan dari Wedbush Securities, sekitar 90 persen proses produksi dan perakitan iPhone dilakukan di China. Dengan kebijakan pembebasan tarif ini, Apple dan perusahaan teknologi lain bisa sedikit bernapas lega.
Beban biaya yang sebelumnya harus ditanggung akibat lonjakan tarif kini dapat ditekan, membuka peluang bagi harga jual yang lebih stabil di pasar Amerika.
Baca Juga: Newcastle Bantai MU 4-1 di St James' Park, Barnes Bersinar, Setan Merah Terbenam
Meski demikian, langkah ini juga menimbulkan sejumlah pertanyaan dari para pengamat perdagangan. Di satu sisi, Trump terlihat tetap bersikap keras terhadap China, tapi di sisi lain memberikan pengecualian pada sektor yang justru sangat bergantung pada rantai pasok dari negara tersebut.
Apakah ini bentuk kompromi politik atau strategi ekonomi jangka pendek—hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang jelas, untuk saat ini, sektor teknologi boleh sedikit tersenyum.
Artikel Terkait
Zelensky Tuding Tentara Militer China Ikut Terlibat Perang di Ukraina
Menlu Tegaskan Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia Tergantung Kesepakatan Negara-Negara Timur Tengah
Biar Gak Kebobolan Data, Menkominfo Tegaskan Batas Maksimal Nomor Ponsel per NIK
Salah Paham Telepon & Sidak Ijazah: Kisruh Armuji Vs Pengusaha Surabaya Berujung Laporan dan Permintaan Maaf
Perang Dagang Makin Panas: China Balas Tarif Impor AS Hingga 125 Persen
KPK Sita Barang Bukti dari Rumah Ridwan Kamil, Termasuk Sepeda Motor dan Alat Elektronik
Ungkap Alasan Inisiasi Beasiswa Anak Palestina, Prabowo: Mereka Harus Selamat, Sehat, Terdidik
BRI Bantu Pengusaha Berdaya Saing Global, UMKM Songket Ini Sukses Tembus Pasar Internasional
Bertemu Sisi di Mesir, Prabowo Diskusi Soal Kerja sama Ekonomi hingga Pertahanan
Diduga Edarkan Uang Palsu, Polisi Ciduk Mantan Artis Drama Kolosal dan Amankan Barang Bukti Uang Palsu Senilai Rp223 Juta