INSIBERNEWS, Jakarta – Di tengah berbagai tantangan ekonomi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) terus menunjukkan kinerja yang solid dengan fundamental yang baik.
Tidak terburu-buru mengejar keuntungan besar, perusahaan menggunakan strategi yang terukur dan pengelolaan risiko yang baik, serta lebih fokus pada pengelolaan risiko jangka panjang, salah satunya adalah dengan menyediakan cadangan yang cukup.
Meskipun dihadapkan pada berbagai dinamika pasar, BRI tetap mampu membukukan kinerja positif di sepanjang tahun 2024, menegaskan resiliensi perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian.
Baca Juga: Dua Pabrik Yamaha Musik Bakal Tutup di 2025, Ribuan Buruh Terancam PHK
Ditegaskan oleh Direktur Utama BRI Sunarso, bahwa kinerja positif tersebut merupakan hasil dari tata kelola bisnis dan manajemen risiko yang baik, serta strategi kehati-hatian dalam menghadapi berbagai potensi risiko.
Sunarso mengungkapkan bahwa saat ini fundamental BRI dalam kondisi yang baik.
“Dalam situasi yang tidak mudah, tetap kita masih membukukan laba Rp60,64 triliun. Dan laba tersebut tidak perlu kita tahan sebagai modal. Karena modal kita sudah sangat kuat,” ujarnya dalam acara Kompas 100 Outlook: Investasi Berkelanjutan di dalam Ekosistem Bisnis Global, Senin (17/2/2025).
Baca Juga: DIY Dekorasi Lebaran 2025 untuk Ruang Keluarga ala Rumah Youtuber, Simpel, Murah, dan Estetik!
Lebih lanjut, salah satu indikator utama fundamental yang baik BRI tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI hingga akhir Desember 2024 yang mencapai 9,6 persen YoY.
Dengan kenaikan 9,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa BRI tetap bertumbuh secara organik di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Pre-Provision and Operating Profit itu sesungguhnya real pertumbuhan,” imbuh Sunarso.
Baca Juga: Wow! Seorang Pria Jepang Raup Rp1,3 Miliar per Tahun dengan Bekerja Tawarkan Jasa Teman Sewaan
Sunarso juga menuturkan bahwa BRI sengaja menjaga laba tetap stabil sebagai langkah kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Dengan strategi ini, perusahaan tidak terburu-buru mengejar keuntungan besar, melainkan lebih fokus pada pengelolaan risiko jangka panjang.
Artikel Terkait
Gagal Merger dengan Honda, Nissan Pertimbangkan Bakal Ganti CEO Makoto Uchida
WNA Singapura Meninggal di Halte Transjakarta, Polisi Lakukan Penyelidikan
Imbas Perang Dagang AS-China, KEK Kendal Kebanjiran Pabrik Relokasi
SM Entertainment Bakal Ambil Langkah Hukum, Soal Rumor Bully Ian Hearts2Hearts
FBI Sebut Korea Utara Dalang Peretasan Kripto Terbesar, Bybit Rugi Rp25 Triliun