EDITORIAL: Memalukan! Indonesia Ketergantungan Listrik Dari Malaysia Hingga 2024

Photo Author
Taufik RM, Insibernews
- Rabu, 19 Juni 2024 | 23:39 WIB
Indonesia impor listrik dari Malaysia. (foto: Istimewa)
Indonesia impor listrik dari Malaysia. (foto: Istimewa)

INSIBERNEWS - Mengagetkan banyak pihak, ternyata Indonesia sudah 10 tahun terakhir bergantung pada impor listrik berbasis air atau Hydro Power Plan (PP) dari Negara Malaysia untuk pasokan sejumlah daerah.

Menurut data yang dirilis Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 7 Juni 2024, impor listrik RI dari Malaysia mencapai 892,91 Giga Watt hour (GWh).

Kebutuhan pasokan listrik dari negeri jiran ini, justru meningkat hampir 12% dari tahun sebelumnya melonjak hingga 797,38 GWh.

Baca Juga: Audensi Dengan Bupati Ditolak, Puluhan Mahasiswa Datangi Kantor Pemda Purwakarta

Kemudian yang mengagetkan pada 2019 angkanya sangat signifikan, dengan tren yang terus meningkat hingga mencapai 1.683,12 GWh, kemudian kembali menurun sejak 2022 pada angka 797,38 GWh.

Apabila dibandingkan kebutuhan impor pada tahun 2013, Indonesia hanya impor sebesar 3.03 GWh.

Seperti diketahui selama ini, untuk Kalimantan Barat mendapatkan pasokan listrik dari Sarawak Electricity Supply Corporation (SESCO), anak usaha dari Sarawak Energy Berhad, Malaysia.

Baca Juga: Sebelum Bunuh Anak Kandung, Pelaku Mimpi Mendapatkan Golok Saat Perdalam Ilmu Kebatinan

Atas kondisi ini, banyak yang berpendapat terkait potensi sumberdaya alam Indonesia yang begitu besar untuk bisa diolah menjadi energi listrik dibandingkan Malaysia, Indonesia seperti tertidur, lupa, tidak sadar bahkan setelah siuman.

Lebih miris lagi, ternyata kita disuapi listrik selama 10 tahun oleh negeri yang merupakan sempalan kecil dari salah satu pulau di Indonesia (Kalimantan).

Kemudian kita mendegar komentar ringan dari seorang Direktur Manajemen PT PLN (Persero) Adi Lumakso, yang mencoba merespon terkait kondisi saat ini.

Baca Juga: Ketua PGRI Tirtamulya SEGEL Gedung Korwilcambidik, Karena Kecewa Terhadap Pejabat Karawang

Adi Limakso mengatakan, penyebab impor dari Malaysia ke Kalimantan Barat ialah belum tercukupi interkoneksi sarana dan prasarana kelistrikan antara Kalimantan Timur, Tengah, Barat, dan Selatan.

Selanjutnya Ia menjelaskan, bahwa di bagian Utara Kalimantan memiliki potensi hidro karena ada PLTA Kayan 9 GWh hingga 11 GWh, nantinya akan bisa terinterkoneksi.

Halaman:

Editor: Taufik RM

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X