INSIBERNEWS - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. BI menilai fundamental ekonomi nasional masih solid dan jauh lebih kuat dibandingkan dengan periode krisis 1997-1998.
Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) BI, Solikin M Juhro, menepis anggapan bahwa kondisi ekonomi Indonesia memburuk akibat gejolak pasar saham dan pelemahan rupiah.
"Seakan-akan ekonomi kita jelek karena IHSG turun drastis dan nilai tukar melemah, padahal enggak begitu," ujar Solikin dalam Taklimat Media di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan negara lain, kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil. Contohnya, inflasi di India mencapai 5,52%, sementara Indonesia hanya berada di angka 1,57%, jauh lebih terkendali.
"Pertumbuhan ekonomi kita tetap bisa mencapai 5%, sementara inflasi hanya 1,5%. Bandingkan dengan India yang inflasinya lima persen," lanjutnya.
Baca Juga: Rasio KPR di Indonesia Masih Rendah, BI Soroti Kesenjangan Perumahan di Daerah Padat Penduduk
Prioritas Stabilitas Ekonomi di Tengah Tantangan Global
Solikin menekankan bahwa dalam kebijakan ekonomi, diperlukan keseimbangan atau trade-off antara berbagai aspek. Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas moneter perlu melakukan optimalisasi kebijakan tanpa mengorbankan stabilitas.
"Jika ada banyak permasalahan ekonomi, kita harus mencari prioritas utama atau yang disebut overriding objective. Kita harus bisa menentukan masalah mana yang perlu ditangani lebih dulu untuk mencapai stabilitas," ungkapnya.
BI juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan krisis keuangan Asia 1997-1998. Saat itu, perekonomian Indonesia sempat mendapat julukan Macan Asia, tetapi kemudian terpuruk dalam waktu singkat akibat krisis.
"Kondisi saat ini sangat berbeda dengan 1997-1998. Saat itu, kita terlihat seperti Macan Asia, tapi dalam dua minggu saja langsung terpuruk. Sekarang, kita jauh lebih siap menghadapi tantangan ekonomi," jelasnya.
Baca Juga: Heboh Tarik Dana untuk Danantara, Dony Oskaria Tegaskan Tidak Pakai Uang Rakyat!
IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, BI Tetap Optimis
Berdasarkan data Bloomberg per Selasa (25/3/2025), nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 51 poin atau 0,31% ke level Rp16.618 per dolar AS.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sempat melakukan trading halt selama 30 menit setelah IHSG anjlok hingga 5% dalam sesi pertama perdagangan. Meskipun demikian, BI menegaskan bahwa kondisi ini tidak mencerminkan kelemahan ekonomi secara keseluruhan, melainkan sebagai bagian dari dinamika pasar keuangan global.
BI memastikan akan terus memonitor pergerakan pasar dan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Artikel Terkait
Kabar Baik! Jasa Marga Beri Diskon Tarif Tol 20 Persen untuk Arus Mudik-Balik, Catat Jadwal dan Rutenya
DPR Dorong Revisi UU Penanggulangan Bencana: Mitigasi Lemah, Anggaran Minim, dan Standar yang Perlu Diperbarui
Polres Karawang Bantah Isu Penggunaan Ambulans untuk Tangkap Massa Aksi, Klarifikasi Soal Penanganan Mahasiswa
Pabrik Minyakita di Karawang Resmi Disegel, Kemendag & Satgas Pangan Bongkar Dugaan Kecurangan Takaran Minyak Jelang Lebaran
Ingin Jadi Personel Damkar? Harus Penuhi Syarat Tidak Boleh Takut Ketinggian dan Gelap
SMK 4 Tahun? Pemerintah Siapkan Lulusan yang Lebih Siap Kerja ke Luar Negeri dengan Sistem Pendidikan Baru
3 Juta Lebih Lulusan SMA SMK Menganggur! Ini Strategi Pemerintah Atasi Pengangguran Kaum Muda Gen Z
Menaker Yassierli: Anjloknya IHSG Tak Berdampak pada Ketenagakerjaan, Pemerintah Fokus Siapkan Skill Pekerja
iPhone 16 Series Resmi Rilis di Indonesia 11 April 2025! Ini Daftar Model & Fitur Terbarunya
Rasio KPR di Indonesia Masih Rendah, BI Soroti Kesenjangan Perumahan di Daerah Padat Penduduk