Ia menilai dampak asap dari api berukuran kecil saja sudah cukup parah. Kondisi itu membuatnya membayangkan bagaimana masyarakat yang berada di wilayah terdampak harus menghadapi asap setiap hari.
“Api yang sekecil itu aja, impact asapnya udah parah banget dan enggak kebayang warga di sana terdampaknya setiap hari,” sambung Sherina.
Sherina Ikut Bantu Pemadaman Karhutla
Tak hanya melihat kondisi karhutla, Sherina juga terlibat langsung dalam upaya pemadaman. Melalui Instagram Story, ia memperlihatkan dirinya ikut bergotong royong membantu tim membawa dan mengoperasikan selang air untuk memadamkan bara.
Pemadaman dilakukan di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu. Sherina menyebut tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah telah melakukan upaya pemadaman selama delapan hari.
Baca Juga: Terungkap Modus Rekrutmen WNI Jadi Tentara Rusia, Awalnya Ditawari Kerja Satpam
Menurut Sherina, proses pemadaman tidak mudah. Selain harus berhadapan dengan bara yang kembali menyala, petugas juga menghadapi kepulan asap tebal yang membuat jarak pandang terbatas.
“Sejam usaha madamin bara-bara yang muncul cukup menguras energi. Asap kencang sekali, visibilitas rendah,” tulisnya.
Sherina turut mengapresiasi para petugas dan relawan yang berada di garis depan penanganan karhutla. Ia menyebut para pejuang lapangan harus bekerja berjam-jam, bahkan menginap di lokasi demi mencegah api meluas.
Baca Juga: BBM Nonsubsidi Resmi Naik per 1 September 2026, Ini Daftar Lengkap Harganya!
Hotspot Karhutla di Kalteng Meningkat
Di sisi lain, data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan adanya peningkatan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah hingga cut-off 1 September 2026.
Di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot meningkat dari 253 menjadi 623 titik. Kalimantan Barat juga mengalami kenaikan dari 273 menjadi 859 titik.
Sementara itu, hotspot di Sumatera Selatan naik dari 20 menjadi 89 titik dan Kalimantan Selatan dari 22 menjadi 73 titik. Jambi yang sebelumnya tercatat nol hotspot meningkat menjadi empat titik.
Baca Juga: Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026–2031, Ini Hasil Keputusan Muktamar ke-35 NU
Adapun Riau masih tercatat memiliki nol hotspot pada periode tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menjadi perhatian serius, terutama ketika titik api kembali muncul dan menghasilkan asap yang dapat mengganggu jarak pandang serta kualitas udara. ***