Karena itu, menurutnya, dakwah seharusnya hadir dengan empati, bukan penghakiman.
Momentum buka puasa bersama pekerja 1001 Hotel dan Colosseum ini seolah menandai kembalinya Gus Miftah ke pola dakwah yang dulu membesarkan namanya dengan mendatangi mereka yang jarang disentuh.
Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah juga menyinggung masa-masa ketika dirinya dihujani kritik.
Baca Juga: Makin Panas! Manchester United Tembus Empat Besar, Berikut Klasemen Liga Inggris Terkini
Ia mengutip hadis bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya.
“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” katanya.
Menurutnya, ujian justru membuatnya lebih banyak membantu orang lain. Ia mengaku, setelah melalui masa sulit, jumlah orang yang bisa ia berangkatkan umrah justru bertambah.
Meski begitu, kehadiran Gus Miftah di klub malam selalu memantik pro-kontra. Ada yang menilai langkah tersebut progresif, ada pula yang menganggapnya kontroversial.
Baca Juga: Piche Kota Bantah Tuduhan Asusila Anak di Atambua, Tegaskan Siap Ikuti Proses Hukum
Namun bagi Gus Miftah, dakwah tidak mengenal batas tempat.
“Kalau yang di masjid sudah rajin, lalu siapa yang datang ke tempat-tempat seperti ini?” demikian pesan yang kerap ia sampaikan.
Buka puasa bersama di Colosseum Jakarta kali ini menjadi simbol bahwa ruang hiburan malam pun bisa menjadi ruang refleksi spiritual meski untuk satu malam.
Artikel Terkait
Bantah Hoax, Kepala BPJPH Babe Haikal Pastikan Produk AS Tetap Wajib Sertifikasi Halal
Undangan Pernikahan Dengan Lindi Fitriyana Tersebar, Virgoun Ngamuk Doakan Penyebar
ANTAM Perkuat Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Pongkor Melalui Inisiatif Strategis
Polemik Sertifikasi Halal Produk, MUI: Pengusaha AS Pasti Tak Mau Rugi di Indonesia
Helmy Yahya Soroti Kontroversi Awardee LPDP yang Tak Mau Anaknya jadi WNI: Itu Uang Rakyat
Safari Ramadan di Pinang, Sachrudin Ajak Warga Kawal Pembangunan dan Perkuat Kepedulian Sosial