Kembali Berdakwah di Klub Malam, Gus Miftah Gelar Bukber dengan Pekerja Colosseum Jakarta

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 25 Februari 2026 | 13:42 WIB
Gus Miftah Kembali Berdakwah di Klub Malam, Gelar Bukber dengan Pekerja Colosseum Jakarta (Istimewa)
Gus Miftah Kembali Berdakwah di Klub Malam, Gelar Bukber dengan Pekerja Colosseum Jakarta (Istimewa)

INSIBERNEWS – Pendakwah Gus Miftah kembali melakukan rutinitas dakwah yang selama ini membuatnya dicintai wong cilik. Baru-baru ini ia menggelar tausiah dan buka puasa bersama para pekerja 1001 Hotel dan Colosseum Jakarta.

Diketahui ruang hiburan malam tersebut pernah masuk daftar Top 100 Clubs dunia dan dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Indonesia.

Bagi sebagian orang, lokasi tersebut mungkin tak lazim untuk kegiatan keagamaan. Namun bagi Gus Miftah, justru di ruang-ruang seperti itulah ia merasa dakwah harus hadir.

Baca Juga: Safari Ramadan di Pinang, Sachrudin Ajak Warga Kawal Pembangunan dan Perkuat Kepedulian Sosial

Dalam tausiah tersebut, Gus Miftah kembali menyampaikan pesan yang menjadi ciri khasnya, yakni dakwah tanpa menghakimi.

“Allah tidak memanggil manusia dengan sebutan “wahai pendosa”, melainkan “wahai hamba-Ku”,” katanya, pada Selasa, 24 Februari 2026.

Pesan itu ia sampaikan untuk menguatkan para pekerja hiburan malam agar tidak merasa terasing dari rahmat Tuhan.

Baca Juga: KIA Jadi Harapan Baru Anak LKS, Pemkot Tangerang Pastikan Hak Administrasi Terpenuhi

Adapun dalam salah satu kisah yang ia ulang, ia menceritakan pengalamannya mendatangi lokalisasi dan memberi uang kepada para pekerja agar berhenti bekerja selama satu malam.

Menurutnya, berhenti dari maksiat walau hanya sesaat adalah sebuah prestasi.

“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” ujarnya.

Baca Juga: Bantah Hoax, Kepala BPJPH Babe Haikal Pastikan Produk AS Tetap Wajib Sertifikasi Halal

Kembali ke “Habitat” Dakwah
Gus Miftah dikenal publik sebagai dai yang kerap berdakwah di tempat-tempat yang tak biasa, seperti klub malam, lokalisasi, hingga komunitas marjinal.

Ia pernah menyebut bahwa orang yang dianggap “ahli maksiat” justru sering memandang orang saleh dengan penuh harap, sementara orang yang merasa saleh kadang melihat mereka dengan stigma.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X