Secara psikologis, sindrom Peter Pan dikenal sebagai kondisi di mana seseorang—umumnya pria—mengalami kesulitan memahami dan menerima tanggung jawab dewasa. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dan Kiley pada awal 1980-an melalui bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up.
Baca Juga: Sumur Bor Rampung di 16 Lokasi, Warga Terdampak Bencana di Sumbar Kembali Akses Air Bersih
Dalam kajiannya, Kiley menjelaskan bahwa faktor keluarga, terutama relasi dengan orang tua, berperan besar dalam pembentukan sindrom ini. Pola asuh yang timpang, konflik orang tua, hingga ketergantungan emosional dalam keluarga dapat memengaruhi kemampuan anak laki-laki untuk berkembang secara matang.
Pengakuan Onad ini pun mendapat sorotan luas, bukan hanya sebagai kisah personal seorang figur publik, tetapi juga membuka diskusi tentang kesehatan mental, kedewasaan emosional, dan pentingnya pendampingan psikologis dalam proses pemulihan dari ketergantungan.***
Artikel Terkait
Kebakaran Dini Hari di Cengkareng Timur, Empat Rumah dan Tiga Lapak Ludes Terbakar
Harga Bawang dan Cabai Melunak di Akhir Pekan, Daya Beli Warga Diharap Terjaga
Presiden Prabowo Berhalangan Hadir di Harlah ke-100 NU, Ini Kata Ketum PBNU
Bantah Isu Penelantaran Anak, Denada Sebut Ressa Hidup Hedon di Banyuwangi
BPOM Soroti Penyalahgunaan Gas N2O, Produk Whip Pink Ramai Dipasarkan untuk 'Nge-Fly'
Tabrak Lari Pemotor di Rengasdengklok, Mobil Anggota Polisi Berakhir Nyemplung ke Kali
Enam Rumah Warga Terdampak Longsor di Bantaran Kali Bekasi, Pemerintah Diminta Bangun Tanggul
Peraih Medali Emas PON, Nurul Akmal Ungkap Kekecewaan Soal Status PPPK Paruh Waktu
Menhan Sjafrie Ungkap Presiden Prabowo Melakukan Pertemuan dengan Tokoh Oposisi, Apa yang Dibahas?
Disebut Anak Haram, Amanda Manopo Ungkap Kesedihan Dibully Netizen Saat Hamil