INSIBERNEWS - Sektor kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) di China terus menunjukkan performa gemilang sepanjang 2025. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, industri mobil listrik dan hibrida mencatatkan lonjakan signifikan baik dari sisi produksi maupun penjualan.
Menurut data terbaru dari Asosiasi Produsen Otomotif Tiongkok (CAAM), produksi kendaraan energi baru mencapai 11,24 juta unit hingga akhir September 2025.
Angka ini melonjak 35,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, mencerminkan semakin kuatnya permintaan pasar terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Baca Juga: Selena Gomez Tanggapi Sindiran Hailey Bieber Soal Perbandingan Brand Kecantikan, Begini Katanya
Sementara itu, penjualan kendaraan NEV juga mencatat kenaikan serupa, naik 34,9 persen secara tahunan menjadi hampir 11,23 juta unit. Pencapaian tersebut membuat NEV menyumbang sekitar 46,1 persen dari total penjualan kendaraan di China — hampir setengah dari seluruh pasar otomotif negara tersebut.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan rendah emisi bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat China.
Berbagai kebijakan pemerintah seperti subsidi pembelian mobil listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta insentif pajak turut mempercepat pertumbuhan industri ini.
Baca Juga: TRAGIS! Truk Bermuatan Semen Terbalik di Pandeglang, 2 Penumpang Tewas Tertimpa Muatan 8 Ton
Bukan hanya produsen besar seperti BYD, Tesla China, dan NIO yang menikmati pertumbuhan tersebut. Sejumlah pemain baru seperti Li Auto dan Xpeng juga mencatat peningkatan penjualan yang stabil, terutama berkat inovasi teknologi baterai dan fitur kendaraan cerdas yang semakin canggih.
Analis industri memperkirakan momentum positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Mereka menilai, kombinasi antara kebijakan pemerintah yang mendukung dan peningkatan kesadaran publik terhadap energi bersih akan membuat pangsa pasar NEV di China menembus lebih dari 50 persen pada 2026.
Selain faktor lingkungan, kenaikan harga bahan bakar juga ikut mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Pemerintah daerah di beberapa provinsi bahkan mulai memperluas kebijakan zona rendah emisi dan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil, yang semakin memperkuat posisi NEV sebagai pilihan utama.
Dengan pencapaian ini, China kian kokoh sebagai pasar dan produsen mobil listrik terbesar di dunia. Keberhasilan tersebut tidak hanya mencerminkan transformasi besar dalam industri otomotif, tetapi juga langkah nyata negara itu menuju target netral karbon pada tahun 2060.***