INSIBERNEWS - Pangeran Arab Saudi sekaligus diplomat senior, Khalid bin Bandar, menyatakan negaranya terbuka terhadap ide pembangunan "Riviera" di Jalur Gaza.
Namun, ia menegaskan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hak-hak rakyat Palestina atau memaksa mereka meninggalkan tanah air mereka.
Baca Juga: Pabrik Nuklir Segera Dibangun! Ini Daftar 29 Lokasinya, Ada Wilayahmu?
Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan London Broadcasting Company (LBC) pada Rabu (12/2/2025), seperti dikutip dari Al Arabiya.
Kata "Riviera" sendiri sering digunakan untuk menggambarkan kawasan pesisir yang indah dan mewah, seperti French Riviera di Prancis atau Italian Riviera di Italia.
Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Tegaskan UKT PTN Tidak Boleh Naik
Jika diterapkan di Gaza, konsep ini mengacu pada upaya pembangunan kembali kawasan pesisir yang kini porak-poranda akibat konflik berkepanjangan.
"Kami menyambut gagasan Riviera di Gaza. Saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa," ujar Pangeran Khalid.
"Namun, kami tidak akan mendukungnya jika harus mengusir rakyat Palestina atau memindahkan mereka ke Arab Saudi. Itu adalah tanah mereka, mereka berhak atas kehidupan yang lebih baik di sana."
Baca Juga: Kabinet Merah-Putih Makin 'Gemuk' di Tengah Efisiensi Anggaran, Begini Alasan Pemerintah
Pernyataan Pangeran Khalid ini merespons gagasan kontroversial yang sebelumnya diusulkan oleh Donald Trump dalam konferensi pers bersama Benjamin Netanyahu.
Trump menyebut Gaza sebagai "daerah hancur" dan menyarankan agar rakyat Palestina direlokasi ke negara lain. Bahkan, Netanyahu sempat mengusulkan agar Arab Saudi mendirikan Negara Palestina di wilayahnya.
Baca Juga: Soal Efisiensi Anggaran, Prabowo Tegaskan Tak Ganggu Operasional Sehari-hari
Ide ini mendapat kecaman keras dari banyak negara di dunia Arab dan Eropa, yang menilai bahwa solusi bagi Palestina bukanlah pemindahan paksa, melainkan pemulihan hak-hak mereka di tanah sendiri.