INSIBERNEWS - Amerika Serikat (AS) kembali membuka wacana agar Rusia bisa bergabung kembali dalam kelompok negara maju G7.
Keanggotaan Rusia di forum tersebut sebelumnya dibekukan setelah Moskow mencaplok Krimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Baca Juga: Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Sindir Masyarakat yang Mampu Beli Rokok Tapi Tak Bayar Iuran BPJS
Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan keinginannya agar Rusia kembali menjadi bagian dari G7. Menurutnya, keputusan untuk mengeluarkan Rusia dari kelompok ini adalah sebuah kesalahan.
"Saya ingin sekali mereka kembali. Saya pikir mengusir mereka adalah kesalahan," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dikutip dari Politico, Jumat (14/2/2025).
Trump menegaskan bahwa persoalan ini bukan tentang mendukung atau menolak Rusia, melainkan tentang menjaga keseimbangan global.
"Mereka seharusnya punya tempat di sana. Saya yakin Putin juga akan senang jika Rusia bisa kembali menjadi bagian dari G7," tambahnya.
Saat ini, G7 terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris, dengan Uni Eropa turut serta sebagai anggota tidak resmi. Sebelum dikeluarkan, Rusia sempat menjadi bagian dari kelompok ini ketika masih dikenal sebagai G8.
Baca Juga: Mengaku Tersentuh dengan Sambutan Prabowo saat Berkunjung ke Indonesia, Erdogan: Saya Sangat Terharu
Namun, meski Trump menginginkan kembalinya Rusia, Moskow sendiri tampaknya tidak terlalu tertarik. Rusia secara resmi keluar dari G8 pada 2018 dan beberapa kali menegaskan bahwa mereka tidak berniat bergabung kembali.
Sebaliknya, Rusia kini aktif dalam kelompok BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—sebuah blok ekonomi yang sering dianggap sebagai penantang G7 dalam geopolitik global.
Trump juga menambahkan bahwa jika Rusia masih menjadi anggota G7, ketegangan internasional mungkin tidak akan sebesar saat ini.