INSIBERNEWS - Korea Utara (Korut) menyerukan tindakan global untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "pembantaian kejam" Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Pernyataan itu disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Korut pada Selasa (7/1/2025), dengan nada keras mengecam operasi militer Israel yang dianggap telah melampaui batas dan memicu kemarahan internasional.
Baca Juga: Usulan Anak SD Belajar Saham, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Beri Tanggapan
Dalam pernyataan resminya, Kemlu Korut menilai bahwa aksi Israel di Gaza telah mencapai tingkat brutal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Ini adalah waktu untuk melindungi perdamaian dunia dengan bersatu melawan pembantaian yang dilakukan Israel. Semua negara yang menjunjung tinggi keadilan dan perdamaian harus mengambil sikap tegas untuk menghentikan kekejaman ini," tegas pernyataan tersebut.
Baca Juga: Banjir Landa Arab Saudi, Aktivitas di Tiga Kota Besar Terganggu
Korut juga menarik paralel historis dengan membandingkan tindakan Israel dengan kejahatan Nazi Jerman selama Perang Dunia II dan operasi militer Amerika Serikat (AS) selama Perang Korea.
Mereka menyebut serangan di Gaza sebagai tragedi kemanusiaan yang serupa, menuduh Israel sebagai "rezim pembunuh" yang tak berbeda dari rezim-rezim penindas lainnya dalam sejarah.
Baca Juga: KPU Batu Tetapkan Nurochman Pemenang Pilwalkot Batu 2024, Ternyata Segini Harta Kekayaannya
Kritik tajam juga diarahkan kepada negara-negara Barat, terutama AS, yang dianggap berperan dalam menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza melalui dukungan mereka terhadap Israel.
Korut menggambarkan Gaza sebagai "pusat kehancuran" yang diabaikan oleh kebijakan Barat yang sering berbicara soal "hak asasi manusia" dan "demokrasi" tetapi dinilai tidak konsisten.
Baca Juga: Muhammadiyah Resmi Umumkan Awal Ramadhan 1446H, Berikut Jadwalnya!
Menurut laporan terkini, konflik tersebut telah menewaskan hampir 46.000 warga Palestina, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
Sebagian besar penduduk Gaza terpaksa mengungsi akibat serangan yang terus berlangsung, menghadapi kekurangan makanan, air, dan obat-obatan yang semakin parah.