INSIBERNEWS - Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah dua kabel bawah laut yang menghubungkan beberapa negara di Eropa rusak secara misterius di Laut Baltik.
Insiden ini memicu kekhawatiran bahwa infrastruktur penting yang mendukung konektivitas internet global mungkin telah menjadi target sabotase.
Meskipun penyebab pastinya belum terungkap, banyak pihak yang mencurigai bahwa pemutusan kabel tersebut disengaja, dan dapat terkait dengan eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina.
Dua Kabel Putus, Satu Koneksi Vital
Pada minggu lalu, dua kabel serat optik yang sangat penting mengalami kerusakan di Laut Baltik. Salah satunya adalah kabel C-Lion1, yang menghubungkan Finlandia dan Jerman, dan dimiliki oleh Cinia, perusahaan yang dikendalikan oleh Finlandia.
Kabel ini membentang sejauh hampir 1.200 km dan menjadi satu-satunya koneksi langsung antara Finlandia dan Eropa Tengah. Kerusakan pada kabel ini tentunya sangat mengganggu konektivitas antar negara dan menimbulkan dampak signifikan pada lalu lintas data antarnegara.
Kabel lainnya yang rusak adalah BCS East West Interlink, yang menghubungkan Lithuania dan Swedia.
Arelion, perusahaan yang memiliki kabel ini, segera mengalihkan lalu lintas data ke jalur alternatif dan berupaya memperbaiki kerusakan. Namun, perbaikan kabel bawah laut bukanlah hal yang mudah karena memerlukan waktu dan sumber daya yang besar.
Baca Juga: Kenapa Warga Bekasi Ogah Pilkada? Jawaban KPU Bekasi Ungkap Fakta Mengejutkan
Pentingnya Kabel Bawah Laut dalam Infrastruktur Global
Kabel bawah laut serat optik adalah tulang punggung internet global, mengalirkan sekitar 99% lalu lintas data antarbenua. Kabel ini membawa berbagai jenis data, mulai dari halaman web, email, hingga panggilan video internasional.
Meskipun jarang terlihat, kabel bawah laut merupakan bagian yang sangat vital dari infrastruktur komunikasi global dan sering kali terpapar ancaman, baik yang disebabkan oleh faktor alam (seperti korosi air asin dan tanah longsor) maupun faktor buatan manusia.
"Kabel bawah laut merupakan bagian infrastruktur nasional yang sangat penting, membawa telekomunikasi antarnegara dan benua. Lokasinya yang berada di dasar laut membuatnya rentan terhadap berbagai ancaman, baik yang disengaja maupun tidak," ujar Martin Lee, pakar dari Cisco Talos.
Baca Juga: Kamar Mandi Sering Bau Pesing? Pakai Ini Biar Seger!
Dugaan Sabotase dan Perang Hibrida
Sementara penyelidikan terhadap insiden ini masih berlangsung, beberapa pihak mencurigai bahwa kerusakan kabel bawah laut tersebut bukanlah kejadian kebetulan.
Jerman, misalnya, menyebutkan bahwa pemutusan kabel tersebut kemungkinan besar adalah hasil dari sabotase yang disengaja, dengan kemungkinan adanya unsur perang hibrida—upaya yang menggabungkan taktik militer dan non-militer untuk melemahkan musuh.