news

Putin Rekrut Tentara Bayaran dari Yaman untuk Perang Ukraina, Skema Diplomatik Rusia dengan Houthi Terungkap

Jumat, 29 November 2024 | 10:55 WIB
Putin Rekrut Tentara Bayaran dari Yaman (foto: Istimewa)

INSIBERNEWS - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah memperkuat pasukan militernya di Ukraina dengan merekrut tentara bayaran dari Yaman.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Rusia untuk memperkuat barisan pasukannya tanpa harus melaksanakan mobilisasi penuh di dalam negeri, yang bisa menimbulkan ketidakstabilan lebih lanjut.

Seiring dengan peningkatan jumlah pejuang asing yang bergabung dengan Rusia, rekrutmen tentara bayaran dari Timur Tengah, termasuk Yaman, menambah kompleksitas dinamika perang Rusia-Ukraina.

Perekrutan Tentara Bayaran dari Yaman

Menurut laporan Financial Times, ratusan tentara bayaran dari Yaman telah dikirim ke Ukraina untuk bertempur di pihak Rusia.

Mereka direkrut melalui perantara yang memiliki hubungan dengan kelompok Houthi, yang saat ini terlibat dalam konflik di Yaman.

Para tentara bayaran ini dijanjikan dengan karier bergaji tinggi dan pekerjaan yang aman. Namun, laporan dari para rekrutan mengungkapkan bahwa mereka dipaksa bergabung dan hanya diberikan sedikit pelatihan setelah mereka tiba di Ukraina.

Perekrutan ini, yang dikatakan dimulai sejak Juli 2023, menunjukkan betapa jauh Rusia bersedia pergi untuk memperkuat pasukannya, bahkan dengan cara merekrut tentara dari negara-negara yang tengah bergulat dengan konflik internalnya sendiri.

Seorang rekrutan dari Yaman mengungkapkan bahwa dia dan 200 orang lainnya dipaksa untuk menandatangani kontrak yang tidak mereka pahami sebelum dikirim ke medan perang.

 Baca Juga: Waspada! Kenali Ciri-Ciri Dini Prostat pada Pria, Harus Tau

Keterlibatan Houthi dan Hubungan Rusia-Yaman

Perekrutan tentara dari Yaman ini tidak lepas dari keterlibatan kelompok Houthi, yang memiliki hubungan dengan Rusia. Meskipun tidak jelas apa imbalan yang diberikan Rusia kepada Houthi, laporan menunjukkan bahwa Rusia telah memberikan dukungan dalam bentuk data penargetan untuk menyerang kapal-kapal Barat di Laut Merah.

Kelompok Houthi sendiri telah mengirimkan beberapa delegasi ke Rusia untuk berdiskusi dengan pejabat tinggi Kremlin, menunjukkan kedekatan diplomatik yang sedang berkembang antara kedua pihak.

Keterlibatan Houthi dalam perekrutan tentara bayaran ini menambah lapisan baru pada aliansi yang lebih besar antara Rusia dan kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah.

Meskipun Rusia mendukung Houthi dalam beberapa aspek, dukungan ini tidak hanya terbatas pada bantuan militer, tetapi juga melibatkan kerjasama yang lebih strategis dalam menghadapi musuh bersama, terutama negara-negara Barat.

 Baca Juga: Putin Punya Harapan Besar pada Donald Trump, Sebut Biden Perburuk Keadaan Perang Ukraina

Halaman:

Tags

Terkini