INSIBERNEWS - Wakil Presiden Sara Duterte, yang dikenal dengan pernyataannya yang kontroversial, lagi-lagi menjadi sorotan publik.
Pada hari Jumat pagi, 29/11/2024, Sara Duterte dipanggil oleh Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk memberikan klarifikasi terkait pernyataan seriusnya yang mengancam Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan Ketua DPR Martin Romualdez.
Namun, yang mengejutkan, dia tidak hadir sesuai jadwal, dan pengacaranya, Paul Lim, hanya memberikan penjelasan singkat, “Hindi siya makakarating” (Dia tidak bisa hadir) tanpa memberikan alasan lebih lanjut. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pihak NBI sudah menunggu sejak pagi di kantor pusat mereka, berharap Sara Duterte datang untuk memberi penjelasan tentang ancaman yang ia lontarkan.
Tim dari Kantor Wakil Presiden bersama pengacaranya juga sudah hadir di tempat yang sama. Namun, setelah menunggu hampir setengah jam, para jurnalis yang hadir diminta untuk masuk ke ruang konferensi dan menunggu instruksi lebih lanjut.
Tentu saja, ketidakhadiran Duterte ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah dia memang sengaja menghindar, atau ada alasan lain di balik penundaan ini?
Kepala NBI, Jaime Santiago, mengatakan bahwa jika Duterte tidak hadir dalam waktu yang telah ditentukan, lembaganya akan meneruskan kasus ini ke Departemen Kehakiman (DOJ), yang akan memutuskan apakah ada dasar hukum untuk mengajukan tuntutan terhadap Wakil Presiden.
Pada dasarnya, ini adalah langkah yang cukup serius, mengingat ancaman yang diucapkan oleh seorang pejabat publik bisa menimbulkan dampak besar bagi keamanan nasional.
Baca Juga: NewJeans Hengkang Dari ADOR: Bagaimana Soal Denda Dan Hak Nama Grup?
Ancaman yang Menuai Kontroversi
Pada 23 November lalu, Sara Duterte membuat pernyataan yang mengundang banyak kecaman. Dalam sebuah konferensi pers daring, dia menyatakan bahwa jika dia terbunuh, dia sudah mengatur pembunuhan terhadap keluarga Marcos dan Romualdez.
Meskipun kemudian Duterte mencoba meredakan situasi dengan mengatakan bahwa ucapannya telah "keluar dari konteks," banyak yang tetap menganggap pernyataan tersebut sebagai ancaman yang serius.
Duterte bahkan menambahkan bahwa ia tidak bercanda saat membuat pernyataan tersebut, dan pemerintah pun tidak tinggal diam. NBI langsung melakukan penyelidikan terhadap ancaman yang dianggap melanggar undang-undang antiterorisme.
Ironisnya, undang-undang tersebut adalah hasil kebijakan dari ayahnya, mantan Presiden Rodrigo Duterte, yang dikenal dengan pendekatan keras terhadap oposisi dan kritik pemerintah.
Baca Juga: Gencatan Senjata Dilanggar, Ketegangan Israel dan Lebanon Kembali Memanas