INSIBERNEWS - Hong Kong yang dulunya dikenal sebagai pusat keuangan global terpercaya, kini disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat sebagai sarang kejahatan keuangan internasional.
Pernyataan ini muncul setelah pengaruh China semakin kuat di kota tersebut sejak 2020.
Baca Juga: Subsidi BBM Tidak untuk Ojol, Bahlil: Usaha Kok Disubsidi?
"Sejak Beijing memperketat kontrolnya, Hong Kong berubah dari pusat keuangan global yang terpercaya menjadi pendukung poros negara otoriter," ungkap John Moolenaar, Ketua Komite China di DPR AS, Kamis (28/11/2024), dikutip dari Bloomberg.
Poros otoriter yang dimaksud mengacu pada China, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Baca Juga: Berikut Daftar Kasus Kekerasan oleh Oknum Polisi per Juli 2023 hingga Juni 2024
Dalam surat resmi kepada Menteri Keuangan AS Janet Yellen, Komite China DPR AS menyatakan bahwa Hong Kong kini menjadi fasilitator sejumlah aktivitas ilegal.
Kota ini diduga menjadi tempat bagi praktik-praktik seperti menyediakan akses teknologi Barat yang terlarang untuk Rusia, mendirikan perusahaan cangkang guna mengelola pembelian minyak Iran yang melanggar sanksi, serta membantu perdagangan emas dari Rusia.
Baca Juga: Teman Dekat Siswa SMK yang Tewas Akibat Tembakan Polisi Ungkap Korban Tak Mungkin Terlibat Tawuran
Bahkan, kapal-kapal yang terlibat perdagangan ilegal dengan Korea Utara pun diduga dikelola dari sana.
Surat tersebut juga mengungkap data mencengangkan. Sekitar 40 persen barang yang diekspor dari Hong Kong ke Rusia pada tahun lalu masuk dalam daftar barang yang dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa.
Baca Juga: Kisruh Uang Donasi Tak Kunjung Kelar, Denny Sumargo Ambil Alih Uang Donasi Minta Pendapat Publik
Barang-barang ini termasuk semikonduktor dan teknologi penting lainnya, yang digunakan Rusia untuk mendukung agresinya di Ukraina.
Temuan ini semakin memperkuat klaim bahwa Hong Kong telah berubah arah dari reputasinya sebagai kota finansial terpercaya.