INSIBERNEWS, Purwakarta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta melalui Sekretaris Daerah(Sekda) Kabupaten Purwakarta Norman Nugraha mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Dwimingguan Ke-39.
Rakor ini membahas mengenai pengendalian inflasi daerah Provinsi & Kabupaten/Kota se-Jawa Barat yang dilakukan secara virtual di Aula Janaka Sekretariat Daerah Purwakarta, Kamis (7/11/2024)
Rapat ini dipimpin oleh Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Yuke Mauliani Septina selaku Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga: Rapat Paripurna DPRD, Pj Bupati Purwakarta Sampaikan Mengenai Tiga Raperda
Pada paparannya beliau menyampaikan dampak inflasi pada perekonomian di Jawa Barat yaitu adanya kenaikan harga barang, penurunan daya beli masyarakat, penurunan investasi serta harga komoditas ekspor menjadi tidak kompetitif. Inflasi merupakan variabel penting dalam ekonomi makro yang menjadi salah satu dari 45 indikator utama pembangunan nasional dan daerah.
Pada bulan Oktober 2024, Provinsi Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,02% (m to m), sehingga secara tahunan 1,92% (y to y). Inflasi tahunan menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan masih berada pada rentang sasaran inflasi 2,51% (y to y).
Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga pada perawatan pribadi dan jasa lainnya (1,24%) serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,23%). Tren penurunan inflasi ini telah terjadi sejak Agustus sampai Oktober 2024.
Untuk Indeks Perkembangan Harga (IPH) sampai Minggu Ke 5 Bulan Oktober 2024, adalah Kabupaten Indramayu (1,39%) dengan komoditas produk daging sapi, cabai rawit dan bawang merah. Kabupaten Garut (1,33%) dengan komoditas produk daging ayam ras, cabai rawit dan bawang merah.
Serta Kabupaten Cimahi (1,30%) dengan komoditas produk daging ayam ras, cabai rawit dan telur ayam ras.
Pada September dan Oktober 2024, secara y to y komoditas telur ayam ras, cabai merah, tomat dan daging ayam ras menjadi andil deflasi akibat peningkatan produksi ditingkat petani dan peternak.