INSIBERNEWS - Tingkat kemiskinan di wilayah Palestina yang diduduki diperkirakan akan mencapai hampir 75% pada tahun ini, seiring dengan berlanjutnya serangan dan invasi Israel di Jalur Gaza.
Laporan terbaru dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) menunjukkan bahwa ekonomi Palestina kini 35% lebih kecil dibandingkan dengan kondisi sebelum invasi Israel yang dimulai setahun lalu, menghancurkan kemajuan yang telah dicapai selama lebih dari tujuh dekade.
Baca Juga: PTUN Jakarta Menolak Permohonan PDIP Terkait Hasil Pemilu 2024
Pada akhir tahun 2023, tingkat kemiskinan di seluruh wilayah Palestina tercatat sebesar 38,8%.
Namun, dengan tambahan 2,61 juta warga Palestina yang jatuh ke dalam kemiskinan tahun ini, total jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan kini mencapai 4,1 juta. Ini berarti proporsi warga miskin hampir dua kali lipat, menjadi 74,3%.
Baca Juga: Dampak dan Kekhawatiran Kolaborasi Militer dan Mahasiswa di Proyek Pangan Food Estate Papua
Kepala UNDP, Achim Steiner, menegaskan bahwa dampak perang bukan hanya terlihat dari kerusakan infrastruktur fisik, tetapi juga melalui meningkatnya kemiskinan dan hilangnya mata pencaharian.
Ia mengungkapkan,
"Tingkat kerusakan telah menghambat kemajuan negara Palestina selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun."
Statistik yang mengejutkan ini menunjukkan betapa parahnya kondisi sosial dan ekonomi di Palestina, di mana banyak keluarga kini terpaksa berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Dengan krisis ini, masa depan pembangunan Palestina menjadi semakin tidak pasti, menuntut perhatian dan aksi dari komunitas internasional untuk membantu mengatasi situasi yang kian memburuk ini.