INSIBERNEWS - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, bersiap melakukan lawatan diplomatik ke Indonesia.
Kunjungan kenegaraan ini mengusung agenda strategis untuk memperkokoh fondasi kerja sama antara pemerintah Tanah Air dan PBB, terutama dalam upaya mempertahankan sistem multilateral yang kini tengah diuji oleh berbagai krisis global.
Kepastian kedatangan pemimpin tertinggi organisasi antarbangsa tersebut disampaikan secara resmi oleh Wakil Juru Bicara Sekjen PBB, Farhan Haq.
Rencananya, Guterres akan langsung bertolak menuju Jakarta pada akhir pekan ini untuk memulai serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan sejumlah pejabat penting.
Baca Juga: Kiriman Asap Karhutla Sumatera dan Kalimantan Mulai Rambah Langit Banten, Begini Kata BMKG
"Sabtu (16 Oktober) dini hari, Sekretaris Jenderal PBB akan berangkat melakukan kunjungan resmi ke Indonesia," ungkap Haq membenarkan jadwal keberangkatan tersebut melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu (17/10/2026).
Salah satu agenda utama Guterres selama berada di Ibu Kota adalah memberikan penghormatan khusus atas dedikasi panjang Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan dunia.
Untuk itu, ia dijadwalkan bertandang langsung ke Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Tentara Nasional Indonesia (TNI) guna meninjau kesiapan para prajurit Garuda.
Di markas PMPP tersebut, Guterres akan bertatap muka langsung dengan personel kontingen Indonesia yang bersiap dikerahkan untuk misi perdamaian MINUSCA di Republik Afrika Tengah.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, ia juga akan meletakkan karangan bunga di tugu peringatan untuk mengenang 50 prajurit kebanggaan Tanah Air yang gugur sebagai pahlawan perdamaian di bawah naungan bendera PBB.
"Saat berada di Jakarta, Sekretaris Jenderal juga akan menyampaikan pidato mengenai Masa Depan Multilateralisme di Kementerian Luar Negeri," jelas Haq menambahkan detail kegiatan bosnya selepas kunjungan militer tersebut.
Pidato kenegaraan mengenai multilateralisme ini dinilai sangat krusial mengingat kondisi geopolitik dunia yang sedang memanas.
Saat ini, semangat kerja sama antarbangsa tengah menghadapi ancaman serius dari pergerakan negara-negara tertentu yang mulai mempraktikkan kebijakan unilateralisme dan kerap memaksakan ego sektoralnya sendiri dalam percaturan politik global.***