INSIBERNEWS - Tragedi hilangnya nyawa seorang pemuda bernama Rafli Ramadhani alias Pingky (19) pasca-tawuran di Jalan Kandea III, Bunga Ejaya Beru, Makassar, kini berbuntut panjang.
Menyusul penemuan luka mematikan pada tubuh korban, lima personel kepolisian dari Polsek Tallo terpaksa harus menjalani pemeriksaan intensif oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Selatan.
Insiden maut ini bermula saat bentrokan antarkelompok pecah di sekitar kanal Masjid Al Markaz pada Minggu (27/9/2026) dini hari.
Menghadapi seratusan massa bersenjata batu dan anak panah, lima aparat yang dipimpin Ipda Azharirir dikabarkan melepaskan tembakan peringatan, namun nahasnya menjelang subuh Rafli justru ditemukan terkapar bersimbah darah sebelum akhirnya tewas di rumah sakit.
Menindaklanjuti kejanggalan insiden tersebut, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana memastikan Propam telah mengambil alih penyelidikan untuk menguji kesesuaian tindakan anggota dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
"Saya sampaikan ini ada Pak Kabid Humas Polda Sulsel, dan pak Kabid Propam juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggota-anggotanya yang tadi diduga melakukan tindak tersebut," ungkap Arya.
Penelusuran terhadap kelima personel yang bertugas malam itu turut melibatkan jajaran Inspektorat Pengawasan Daerah (Irwasda) guna menguji validitas penggunaan senjata.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto menyatakan timnya tengah membedah secara rinci mengenai prosedur penembakan di lapangan.
"Berapa orang yang memberikan peringatan, senjatanya siapa, proyektil jenis apa, nanti akan keluar hasil dari penyidikan, termasuk hasil Labfor akan kita tunggu," jelas Didik merespons desakan awak media.
Baca Juga: Kronologi ASN Kemenekraf Vanreko Meninggal Usai Ikuti Latsarmil Komcad, Sempat Pulih dan Sadar
Dari kacamata forensik, Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr. Muhammad Haris membeberkan bahwa bukti pemeriksaan luar awal memang menunjukkan adanya jejak trauma balistik yang menembus organ vital.
"Kita dapatkan di punggung belakang ada luka. Kemudian pada pemeriksaan selanjutnya ada luka keluar yang menyerupai luka tembak, dari daerah punggung luar kiri keluar di lengan kanan," urainya memberikan konfirmasi medis.
Demi menyingkap tabir gelap insiden berdarah ini, pihak keluarga korban akhirnya memberikan persetujuan penuh kepada pihak kepolisian untuk melakukan tahapan autopsi.
Pencocokan antara hasil bedah mayat dan uji balistik nantinya akan menjadi penentu mutlak guna mengungkap siapa pemilik selongsong peluru yang telah merenggut masa depan pemuda tersebut.
Peristiwa ini menjadi teguran keras sekaligus ujian transparansi bagi penegakan hukum di tubuh kepolisian Makassar dalam menangani kasus yang menyeret anggotanya sendiri.
Masyarakat kini terus memantau janji keterbukaan dari Propam dan Labfor untuk memastikan keadilan yang seadil-adilnya bagi keluarga korban yang tengah dirundung duka mendalam.***